Ingatlah Hari Ini (Bagian 8)



“Cantik. Kecil. Terkendali.”

“Apa maksudmu?”

“Rumah kamu cantik. Segala perabotan saling menunjang. Ukuran rumahnya kecil. Dan karena kecil, lebih gampang dikendalikan.”

Erick garuk-garuk kepala. Ia merasa menghadapi wanita seumurannya.

“Kamu tinggal sendirian. Jika rumahmu besar, pasti ada bagian dari rumahmu yang jarang atau tidak pernah kamu tapaki. Tetapi jika kecil seperti ini, bahkan semut yang merayap di dinding kamu pasti lihat.”

“Aku sendirian, bahkan jarang di rumah. Buat apa rumah besar-besar. Aku juga bukan kolektor barang. Tidak punya istri—anak, jadi ini ukuran rumah yang masuk akal buat aku.”

Anne minta diantar ke dapur. Ia berdiri kebingungan. “Kamu tidak punya kompor?”

Erick berusaha berwajah datar. Ia menuju sebuah meja marmer berwarna hitam. Telunjuknya menuju pada sebuah plat hitam.

“Ini kompor otomatis. Hanya bila ada sesuatu diatasnya dia akan menyala. Anehnya, dia bisa membedakan mana panci, mana tangan. Kalau tangan yang diatas seperti ini, dia tidak menyala.”

“Oke, deh. Aku langsung mulai.”

Erick beringsut ke sudut ruangan. Ia memperhatikan setiap detil tingkah Anne. Dengan melihat apa yang diambilnya, ia sudah bisa menebak apa yang akan dimasak Anne. Ia berharap masakan Anne tidak mengganggu pencernaan dan dalam batas-batas yang dapat dipertanggungjawabkan dalam dunia kesehatan.

Erick mengambil kursi. Ia merasa ada yang mengasyikkan melihat manusia lain di rumah ini. Manusia itu memotong-motong ayam dengan cekatan. Ia pernah tahu temannya yang seorang chef, memotong ayam model seperti itu. Beberapa potong ia goreng, sedikit ia jadikan kaldu.

Entah pada tahun ke berapa untuk terakhir kalinya, hidungnya mencium bau bumbu goreng ini. Bawang merah, putih, plus pala. Wangi. Jika ada dua pilihan bau—parfum atau tumisan bumbu—ia lebih memilih yang terakhir. Mama. Rumah. Masa kecil.

“Tidurlah dulu sebentar di sofa. Nanti kalau matang aku beritahu.” Anne menyadarkannya dari lamunan. Badannya bangkit dan menuju sofa. Matanya berusaha menahan diri berjaga, tetapi tiupan AC merebahkannya, sampai sebuah tangan menyadarkannya lagi.

Anne tampak segar. Erick mengenali bau sabunnya sendiri dan bedak bayi.

“Sorry, aku tidak minta ijin pakai kamar mandi. Makan sambil bau bawang nggak enak.”

“Kamu cantik, Ne.” Sisa-sisa tetesan air di ujung rambut Anne sesekali membiaskan sinar lampu. “Aneh, kalau belum ada cowok yang suka kamu.”

“Anne melorot dari tempat tangan sofa ke tempat duduk. “Kenapa kamu yakin belum ada yang suka aku. Mungkin aja ada tapi aku tolak.”

“Kalau begitu, dia harus lebih berusaha lagi. Berusaha untuk mendapatkan chef gratisan.”

Anne tertawa keras. Ia menimpukkan bantal ke kepala Erick. “Udah, nggombalnya. Ayo makan. Aku pengin tahu, apakah pendapatmu tentang ke-chef-anku berubah atau tidak.”

Erick merasa berat badannya melonjak dalam dua kali lipat dalam tiga jam terakhir. Perutku sakit, tapi remah-remahan kulit ayam kering itu masih menggodanya. Anne sampai geleng-geleng kepala melihat Erick bertingkah seperti adiknya.

“Aku tahu, kamu pasti mengira aku seperti anak kecil. Tapi ketika aku kecil, aku suka banget makan kulit kering yang baru matang ini. Rasanya gurih. Dan aku tidak pernah kuatir gendut. Seperti yang kamu lihat, metabolismeku berjalan dengan baik.” Erick menepuk-nepuk perutnya.

“Berbahagialah bagi kalian yang tidak pernah bisa gendut. Aku sendiri harus hati-hati kalau makan. Sekali makan berlemah, aku harus lari tiga kilo-an.”

Erick beringsut mendekati tempat duduk Anne. Jari-jarinya merapikan rambut Anne yang satu-dua menutupi matanya. “Terima kasih. Kamu mungkin tidak tahu, bagaimana berartinya makan malam ini—atau sore, ya?—bagi aku.”

“Kamu juga membantuku—eh—maksudku, teman-temanku. Aku bisa bayangkan pesta perpisahan kami meriah dan elegan. Pesta kebun, pok.” Anne berlalu ke arah dapur. Erick membuntuti Anne dan mencegahnya. Ia menarik tangan Anne dan membawanya ke ruang tengah. Tangannya memberi tanda untuk diam di tempat itu, sedangkan ia berlari ke arah meja kecil di sudut ruangan. Anne tahu, itu adalah piringan hitam, meskipun begitu, ini adalah pertama kali ia melihat piringan hitam dalam bentuk nyata.

“Oh, enggak, Rick. Aku nggak bisa dansa.”

“Ini lagu slow. Goyang-goyang dikit aja. Tenang, dansa tidak seperti tarian jawa. Ikuti iramanya aja.”

Erick tidak menerima penolakan. Lengan kirinya melingkar di pinggang Anne, dan tangan kanannya meraih tangan Anne. “

Anne beberapa kali tersandung kaki Erick. Tetapi gaya Erick yang hanya terdiri dari dua, goyang kiri, goyang kiri, membuat Anne cepat mengerti dan bergoyang hanya dengan mengikuti beat musik.

“Aku bilang juga apa.” Bisik Erick. “Mudah, kan?”

Anne pelan-pelan meletakkan kepalanya pada dadanya. Denyut jantung Erick berdetak pelan. Anne merasa agak kecewa ketika kehadirannya tidak membawa rasa apa-apa pada diri Erick. Ia ingin mendongak, tetapi badannya terasa terjepit makin rapat. Sesuatu menempel pada dahinya.

“Aku ingat adikku. Seusiamu.”

“Kamu pasti sayang sekali sama dia.” Bisik Anne. Kepalanya mendongak.

Sorry.”

Sorry for what?”

Sorry buat yang barusan. Aku lagi baper.” Erick lega melihat Anne hanya menarik sudut bibirnya. Pandangannya tidak menyempit seperti orang yang merasa tidak nyaman.

“Kamu ingin berubah?”

“Andai saja semudah itu.”

“Pernah mencoba?”

Erick mengangguk. “Tidak lama. Aku merasa tidak nyaman,” hidungnya menghela nafas. “Seperti bukan diriku.”

“Dulu ayah suka kopi manis. Pake banget. Sesudah melayat temannya yang meninggal karena diabetes, ayah mencoba mengurangi gula. Biasanya ayah memakai dua sendok teh gula buat secangkir kopi. Ia mulai mengurangi sampai setengah. Sampai akhirnya ayah biasa meminum kopi tanpa gula. Aku masih ingat ayah selalu ingin muntah ketika pertama kali minum kopi pahitnya. Butuh waktu tiga minggu sampai ayah terbiasa.”

Erick merenggangkan dekapannya. Lagi-lagi bola mata itu seperti menjebaknya. Ajaib. Betapa pun keinginannya untuk berpaling menghindar demikian besar, Erick ingin tetap melihatnya.

“Aku tahu maksudmu. Tapi—“

“Takut gagal? Kamu harus memulainya dengan orang yang tahu keadaanmu, dengan begitu, dia lebih bisa memahamimu. Jika kamu gagal, dia bisa mengerti. Apabila kamu memutuskan berhenti, dia tak akan bertanya lagi apa alasanmu.”

Erick mendekatkan wajahnya. Sedemikian dekat, sampai sebuah angin hangat menerpanya dari depan. Namun lama kelamaan angin itu berhenti, tepat ketika Erick merasakan sesuatu yang asing menyentuh bibirnya. Inikah rasa itu—

Tapi kenapa sentuhan ini terasa dingin. Aliran darahnya tetap normal karena jantungnya berdetak seperti biasa. Sesuatu yang memburu itu hanya impian, meskipun ia menyapu dan menggalinya, menggali sampai langit-langit. Erick tersadar ketika mendengar suara Anne tercekat. Usahanya terlalu menghalangi Anne mencari udara segar.

“Sorry.” Jari-jemari Erick menyapu bibirnya. Anne tidak terpejam sedetik pun. Usapan-usapan dan kecupan pada dahinya yang akhirnya menyadarkannya. “Aku antar kamu pulang, oke?”

Anne mengangguk, menunduk dan merasakan untuk terakhir kalinya pada malam itu, bau rempah keras dari depan.

Bersambung...

Sebelumnya: Bag 1, Bag 2, Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6, Bag 7

sumber gambar: Marie-Laurie, weheartit.com

Ingatlah Hari Ini (Bagian 8) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar