Ingatlah Hari Ini (Bagian 16)


Erick mengamati dari kejauhan. Ia ingin berlari membantu Anne ketika gadis itu mengangkat beberapa kotak yang diletakkan di panggung sesudahnya. Erick juga ingin meraih tangannya dan membawanya ke tempat terpencil agar mereka berbicara lebih pribadi, namun ia merasakan bahwa keinginan seperti itu justru mematikan karakter Anne. Ia tidak ingin mereka tahu Anne miliknya. Membiarkan Anne tumbuh berkembang seperti remaja lainnya adalah salah satu caranya mencintainya.

Anne bukannya tidak tahu posisi Erick. Tidak perlu sampai melirik untuk tahu, setiap kali ia melewati pondok di dekat pohon besar itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Pertama-tama Anne takut kalau-kalau ada sesuatu tak kasat mata di dekat pohon itu tetapi lambat laun ada perasaan yang sulit dikatakan. Mungkin kata bahagia lebih mendekati. Ia melemparkan pandangan sebentar dan terlihat ada gerakan, seakan-akan sesuatu itu menyembunyikan dirinya.

Aurora sudah mulai curiga melihat Anne bolak-balik mengambil kursi. “Ngapain ngambil kursi satu satu?”

“Capek, ah. Berat lagi kalau kebanyakan. ”

“Bukannya lebih capek kalau bolak balik gitu. Tuh, minta bantuan Gordon apa Rudy.”

Gordon memasang spanduk di belakang panggung. Badan montoknya makin mengkilap karena keringat. Anne tertawa, lantas menoleh ke Aurora. “Daripada minta bantuan Gordon bantuin aku, lebih baik kamu berdoa aja supaya Gordon nggak jatuh kayak kelapa.”

Anne belum sempat menutup mulut, terdengar bunyi gedebuk. Anne dan Aurora spontan melihat ke arah Gordon. Teman-teman mereka terlihat berhamburan ke tempat Gordon. Rudy menyibak teman-temannya. Dia bernafas lega, melihat Gordon jatuh diatas tumpukan terpal tebal. Gordon mengangkat tubuhnya sambil memegang belakang kepalanya.

“Ayo ambilkan air.” Sebelah Gordon berteriak.

“Air? Air aki?”

“Air hujan? Sekarang belum hujan, kok. Tunggu Desember.”

“Air pipis?”

“Mungkin maksudnya jeruk pipis?”

“Lengkapnya air jeruk pipis kuda.”

“Hei, seriusan dikit kenapa?” Gordon pasang tampang seram. Tampang yang hanya bisa dirubah oleh…

“Nih ada sisa tahu isi. Mau?” Tangan Aurora menyomot tahu isi yang ada di mulut Kusnarsasih. Wajah Kusnarsasih memelas. Tahu isi yang diharapkan mengisi perutnya yang kosong sekarang berpindah ke mulut Gordon.

“Wah ini sama saja Gordon cium Sasih.”

Gordon tersendak. Teman-teman Gordon tertawa. Wajahnya kebingungan mengartikan perkataan tadi. Aurora akan mengajak Anne pergi untuk mengambil minuman lagi. Kepalanya pusing berputar-putar menyadari Anne sudah tidak ada di sampingnya. “Walah, kemana tuh anak?”

“Kamu cuma hobi ngintip. Nggak berani nyamperin.”

Anne belum menutup pintu ketika berbicara. Erick sendiri yang mendorong pintu pelan-pelan. “Ada saatnya mereka tahu, tapi nggak sekarang.” Erick menarik pinggangnya tapi Anne menjauhkan diri.

“Kenapa? Masih marah?”

“Aku keringetan. Bau.”

Erick tersenyum. Ia menarik pinggang Anne. Kali ini menggeser keningnya di sepanjang kening Anne. “Nah sekarang udah bersih.” Erick mencium keningnya.

Suatu kehangatan menjalar di sepanjang kening dan jatuh di jantungnya. Setiap kali rasa itu jatuh, dadanya bergetar, menjalar di seluruh tubuhnya.

“Kita bisa begini sampai lama?” Rengkuhan Erick masih membius.

“Hemm..eh.”

“Aku pengin cepet-cepet selesaikan kuliahku entar.”

“Itu harus.”

“Anneeeeee.”

Erick dan Anne kaget. Mereka spontan merunduk, menghindari jendela.

“Itu suara Aurora cari aku.”

“Tunggu sampai dia agak jauh, trus kamu keluar diam-diam.”

Anne mengendap-ngendap menuju pintu. Pintu terbuka sedikit. Mata Anne membulat melihat ke luar. Bahunya memutar ke belakang. “Sampai nanti malam, ya.”

***

Erick memerintah lima orang berjaga-jaga untuk membantu pesta perpisahan sekolah Anne. Tukang masak sengaja melebihkan sedikit makanan atas perintah Erick juga. Dia masuk ke ruangannya setelah menganggap dapur sudah sesuai keinginannya.

Sejak sore tadi, Erick sudah menimbang-nimbang, pakaian apa yang mau dikenakannya. Sampai detik ini, ia masih belum mempunyai keputusan. Ia berpikir akan terlihat terlalu formal jika ia berpakaian seperti kebiasaannya saat ini, tetapi jika berpakaian seperti teman-teman Anne, Erick merasa tidak pantas. Matanya lantas terpaku pada baju baseball. “Kayaknya pantas.” Erick melihat bayangannya dalam cermin. Tangannya menggapai atas meja tempat ia baru saja meletakkan parfum kesukaannya.

“Norak apa kagak?” Matanya melihat bayangan tangannya menimang-nimang botol parfum. “Aku rasa anak SMA cowok nggak ada yang pake parfum?”

Erick mematut-matutkan diri sambil ketika menimbang-nimbang. Ia berdiam sejenak, dan meletakkan parfum kembali di tempatnya.

***

Rudy bolak-balik mencermati keadaan di sekelilingnya. Sesekali ia mendesah dengan tarikan nafas panjang. Ia menuju ke meja makanan dan mengambil gelas plastik air mineral. Matanya bertatapan dengan Gordon. Tubuh tambun itu mengendikkan bahu. Sebentar lagi Band selesai membawakan lagu ketiga dan tak ada tanda-tanda orang asing di sekitarnya, kecuali pegawai-pegawai katering hotel dan beberapa Satpam.

Rudy seketika mengernyit. Ada yang aneh, pikirnya. Kepalanya berputar ke sekelilingnya. Sepertinya dari lagu pertama dia sudah hilang.” Jantung Rudy berdetak kencang. Ada rasa meledak-ledak di dadanya. Dia membuang gelas plastik ke-tiga dan beranjak dari tempatnya. Belakang panggung kosong. Dia mendatangi pintu masuk. Tak ada yang dicarinya. Kedua tangan masuk ke saku celananya; mengeras. Seakan dengan cara itu pikirannya lebih mudah menebak. Senyumnya muncul tipis. Kakinya beranjak ke arah bangunan dekat kolam renang. Ia mengendap-ngendap. Dengan gerakan memutar, ia menghapus debu-debu di kaca jendela. Matanya berbinar. Ia merunduk dan menjauhi bangunan.

Erick mengarahkan matanya ke arah pintu. Sinar terang mengarah pada matanya. Anne berteriak keras, punggungnya menabrak tombok. Erik tak menyadari sebuah sosok berjalan ke arahnya. Pipinya seketika terasa sakit sebelum sesuatu menghantam perutnya. Erik jatuh terduduk.

“Apa yang kalian lakukan ini? Anne! Sini kamu.”

Anne menjerit/ Pergelangan tangannya terasa patah. Seseorang menarik tangannya dengan cepat.

“Kamu tidak tahu malu, melakukan ini pada anak masih dibawah umur.”

Erick mencoba bangkit, tapi sesuatu melayang, menghantam kepalanya. Ia jatuh terduduk lagi.

“Paaaa. Erick tidak melakukan apa-apa sama Anne/”

“Diam kamu, Ne. Kalau kalian tidak melakukan apa-apa, kenapa kalian berduaan di gudang ini?” Orang itu menoleh ke arah Erick. “Kalau saja ini bukan tentang anak Anne, saya pastikan kamu dipennjara. Tapi jika kamu masih mendekati Anne, jangan kamu pikir saya enggan membawa masalah ini ke polisi.”

Erick masih tidak memastikan siapa-siapa yang masuk di gudang. Matanya masih belum beradaptasi dengan sinar dari arah pintu yang terbuka. Telinganya hanya mendengar beberapa suara seperti orang masih muda, beberapa orang tua, dan tangisan Anne. Bayangan –bayangan kepala di kaca satu persatu hilang mengikuti orang-orang yang keluar dari gudang.

***

Erick bangkit dari sofa karena suara bel tamu. Ia duduk sejenak sebelum tertatih-tatih menuju pintu. Sebelum membuka pintu, ia berharap wajah di benaknya muncul di balik pintu itu.

“Hallo...”

Erick baru menyadari kenapa orang di depannya selalu memakai bando. Rambutnya yang diikat di belakang, sekarang dibiarkan bergerak bebas.

“Mau masuk?”

Gadis itu mengangguk; mengikuti Erick yang kembali duduk di sofa. Mulutnya ingin sekali berbicara terlebih dahulu, tapi ia sungguh-sungguh kehabisan kata-kata. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semua sekolah Anne dan karyawan hotelnya sudah mengetahui semua hubungannya dengan Anne dan Erick bukan orang yang senang berbasa-basi, berbicara berputar-putar sebelum masuk ke pokok masalah.

“Anne menyuruhku menemui, Om. Dia ingin tahu keadaan Om.”

“Panggil aja aku Erick. Katakan saja aku baik-baik.”

“Dia bilang, ingin ketemu…kamu.”


Bersambung...

Bagian
12345678910
11 12 13 14 15 16


sumber gambar: Marie-Laurie, weheartit.com

Ingatlah Hari Ini (Bagian 16) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Good Dreamer

0 komentar:

Posting Komentar