Ketika Kita Masih Remaja


“Madeeeeee…awas kamu.” Dhea mempercepat langkahnya dari jalan cepat ke lari. Made sudah mendahuluinya. Bagaimana tidak? Made memakai sepeda.

Langkah Dhea sekarang malah seperti pelari empat ratus meter. Dia tidak perduli apakah Made masih atau menghilang dari pandangannya. Dari jalan yang dilewati, sudah pasti Made menuju kemana.

Brakkk….

Untung pintu pagar itu dari besi. Tak urung bunyi deritan besi yang tak diminyaki bersuara seperti cicitan tikus.

“Made keluar kamu… kalau enggak aku lempar pake batu.”

Kepala wanita paruh baya muncul dari sibakan tirai. Alisnya terjuntai keatas ketika melihat Dhea. Ia membuka pintu.

“Ya, ada apa, ya?”

Dhea memanjat pagar. Mulut wanita itu lebih terbuka dari matanya. Sebelum sempat tangannya memegang tubuh Dhea yang kecil, gadis itu melewati pintu seperti kilat.

Wanita itu mengikuti arah suara pintu dibuka. Mulutnya hampir copot melihat Dhea bersiap-siap dengan kepalan tangannya.

*** 

“Senaaaaa.” Hari berlari memasuki kelas.

Sena sedang menghitung kelereng di atas meja. Wajah memang tidak bisa ditekuk, tapi mulutnya yang mengarah keatas dan nafasnya yang memburu, disertai bukaan mata sempit, sungguh bisa diandaikan dengan muka ditekuk.

“Kamu kenapa?” Hari meletakkan salah satunya diatas meja. Meski terlihat tidak sabar untuk berbicara, dia mencoba berhati-hati bersikap.

“Lihat nih, aku kalah lima kelereng dari Irwan. Kalah besar. Udah gitu tanganku bisa segede gaban.” Sena menunjukkan tangannya. Di sekolahnya, sering diadakan adu permainan kelereng. Anak yang kalah akan di gender. Istilah ini mengacu pada tangan yang dijatuhi kelereng dari ketinggian tertentu sebagai hukuman.

“Ada apa?” Sena tidak tega melihat muka Hari memerah.

“Dhea, dia ngejar Made.”

“Duh, ngapain lagi tuh anak. Made bikin ulah? Masih belum tahu kalau Dhea itu cewek kerasukan gorila?”

“Masih aja bercanda. Kamu kejar dia. Paling Made lari kerumahnya dia.”

Sena melengos. “Di rumah Made pasti ada orangtuanya. Kalau orangtua aja nggak bisa menasehati Dhea, apalagi aku. Aku lagi males berantem.”

“Dhea cuma dengar kamu.”

“Gini deh, besok kita latihan tugas Pak Kardji buat nge-dance kelompokan. Ntar aku ngomong ke dia.”

“Terlambat dong. Made udah gembuk.”

Sena tertawa ngakak. Di daerahnya, kata gembuk itu mengacu pada benar-benar lunak. “Nggak usah kuatir, Har. Segembuk apa, dia bakalan baik-baik saja.”

*** 

Musik dari tape recorder baru saja berakhir. Anak-anak langsung menyerbu penganan. Gorengan buatan mama Lily terkenal enak. Kurang cepat menyambar bisa gigit jari. Tapi Sena justru tidak terlihat bernafsu. Kakinya mengantarkannya duduk di samping Dhea.

“Hai.”

Dhea tidak bisa membalas. Pipinya mengembung. Penuh dengan remahan gorengan.

“Aku dengar kamu barusan bikin gembuk Made?”

Dhea mendelik. Sukar ditebak karena apa? Mungkin karena tersendak gorengan atau kaget mendengar kata Sena. Tangannya menggapai gelas.

“Salah dia. Kenapa dia tarik-tarik rambutku?”

Sena menggulung lengan bajunya sampai ketiak. “Pukul aku.”

“Apa? Aku nggak ada masalah sama kamu. Ngapai juga aku pukul kamu.”

“Kenapa? Tidak berani? Pengecut.”

“Aku bukan pengecut.”

“Lantas?”

Buukkk.

Sena sempat mengeryit. Ia lantas menurunkan lagi gulungan lengan bajunya. “Puas?”

Mata Dhea membesar. Sena membiarkan rasa sakit di lengannya menghilang. Ia mengulur waktu dengan mengambil cabe dan ote-ote.

“Lihat. Aku tidak mempermasalahkan kamu ketika memukulku. Bahkan aku memintanya. Kamu tahu kenapa?”

Dhea tidak berani berandai-andai. Kejadian barusan membuatnya merasa tidak enak. Apakah rasa bersalah itu masih harus ditambah?

“Karena kamu temanku. Aku tidak selalu mengharapkan kamu selalu bersikap manis. Wajar jika ada kalanya seseorang merasa jatuh. Mungkin tembok terlalu keras buat dipukul, jadi kamu butuh orang. Teman bukan tong sampah. Juga bukan tembok, tetapi apa salahnya sesekali kita menghayati pertemanan tanpa mulut. Bisa jadi diam adalah penyelesaian. Diam membuat air yang mengalir membentuk batu memiliku alur atau ceruk yang indah. Tanpa pemahatnya, batu tetaplah batu, tetapi Tuhan mengijinkannya membentuknya lewat sesuatu yang lemah. Air contohnya.”

“Jadi kamu menganggap tindakan Made menarik-narik rambutku itu benar?”

“Tidak. Bukan itu maksudku. Aku dan semua teman-temanku adalah manusia, bukan malaikat. Sekarang aku ngomong gini seakan-akan aku orang bijaksana. Tidak sama sekali. Aku hanya sedang waras. Tetapi suatu ketika, aku mungkin membutuhkan bahu untuk menangis. Jika tidak, kamu harus curiga, aku adalah tuhan.”

Mulut Dhea sudah kosong dari tadi. Tenggorokannya tercekat. Kalau saja bukan Sena yang berbicara, ia ingin berkata. “Ah, sok, lu.”

“Kamu ingin aku meminta maaf?”

Sena tersenyum. Ia tidak menjawab apa-apa. Matanya membentuk lingkaran bola paling besar yang pernah dilihat Dhea. Sena malah mengambil beberapa ote-ote dan meminum softdrink dan melihat Hari sedang ditimpuk Elisa.

Dhea menghabiskan sisa waktu istirahat dengan diam, sampai Sena berbalik menatapnya. “Kamu mencintai aku, Dhea?”

Dhea mengangguk.

“Kamu lihat. Cinta itu menyenangkan daripada membenci.”

sumber gambar: craftgetideas.com

Ketika Kita Masih Remaja Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar