Ingatlah Hari Ini (Bagian 13)


Sudah keduakalinya, Anne mengeluarkan sapu tangan yang lebih mirip handuk kecil. Matahari masih terasa membakarnya meski ia sudah berteduh di bawah penutup selasar. Kelas-kelas sudah hampir sepi. Hari ini lebih melelahkan. Bimbingan belajar ekstra dari guru setelah jam usai sekolah dilanjutkan rapat acara perpisahan.

Anne hampir mengajak Aurora untuk menemaninya, tetapi ketika dilihatnya dia pergi bersama Napaleon, mulutnya urung bersuara.

Ia bingung mempertimbangkan untuk pulang ke rumah atau mengajak Erick keluar sebentar untuk sekedar penyegaran. Tapi beberapa hari lalu mereka sudah berjanji untuk tidak ketemu. Erick tidak ingin mengganggu Anne yang belajar untuk ujian minggu depan. Erick berjanji akan menemani kemana saja Anne akan pergi setelah ujian nanti.

“Kalau aku kangen gimana?”

“Nggak ada setahun, kok. Lagian ini juga ujian buat kita. Kita eros, philia atau agape?”

“Memangnya kita harus pilih apa?”

“Agape harus lebih besar. Tapi saat kita menikah nanti harus ada eros juga.”

Anne tertawa. “Kita baru jadian. Kayaknya berat kalau harus puasa ketemu.”

“Kamu masih ingat, kan. Ayahmu melarang kamu keluar-keluar nggak jelas. Tunggulah sampai keadaan tenang. Sebab jika nanti ayahmu marah lagi, keadaan tambah kacau.”

“Aku jadi tambah kangen.” Anne berbisik kepada dirinya sendiri. Anne memesan ojek online. Ia turun di dekat taman kota; seberang jalan Valley Resort. Pikirannya lebih tenang ketika mendapatkan kursi taman yang separuhnya tertutupi rimbunan Heliconia. Matanya berjalan sepanjang bagian depan hotel. Meskipun tak bertemu secara dekat, hatinya berharap dapat melihat Erick.

Beberapa saat, ia kecewa. Tangannya menepok jidat. “Tentu saja Erick nggak mungkin keluar dari hotel. Ia bisa saja menyuruh orang untuk membeli makanan jika ingin makanan diluar hotelnya. Dia pun punya mobil yang bisa dipakainya sewaktu-waktu tanpa perlu memesan ojek online seperti aku.”

Anne terpekur dalam waktu lama sebelum ia merasakan ada yang melingkari pinggangnya. Sontak ia menoleh. Air matanya jatuh ketika mengetahui orang di belakangnya.

“Darimana kamu tahu aku disini?” bisiknya terdengar parau karena kerongkongannya basah.

“Aku tadi di depan sekolahmu. Duduk di warung. Aku pengin ketemu kamu tapi ingat janji kita.”

“Kita punya pikiran yang sama. Apa berarti kita eros?”

“Entah. Yang jelas, kita sedang jatuh cinta.” Matanya berlabuh pada bagian bawah rambut Anne. “Kenapa kamu memotong rambutnya sependek ini?”

“Aku pikir kamu lebih menyukainya jika aku seperti ini.”

“Aku tahu maksudmu. Tapi aku nggak ingin merubahmu. Aku ingin belajar mencintai kamu sebagai kamu.”

“Tidak masalah, Rick. Sepanjang itu bisa membuatmu lebih menyukaiku.”

Please. Lain kali jangan seperti ini.”

Anne hendak melingkarkan tangannya tetapi tangan pria itu menepisnya. “Jangan disini. Yuk ikuti aku. Kita bisa masuk dari belakang, ada lift khusus di sana tempat aku masuk tanpa melewati bagian depan.”

“Kamu sengaja menyembunyikan pintu ini?” Anne terheran-heran melihat dibalik rerimbunan tanaman ada pintu yang tampak usang. Setelah dibuka, di dalamnya ada sebuah ruang berukuran tujuh kali empat meter. Di salah satu dinding, terdapat pintu lift.

“Bukan aku yang membuatnya, tetapi pemiliknya terdahulu. Ia sering pura-pura tidak masuk kantor tetapi diam-diam menyelinap masuk, supaya ia tahu bagaimana kerja karyawan kalau tidak ada dia.”

“Ada orang yang tahu pintu ini?”

“Cuma satu orang yang aku percaya membersihkan tempat ini. Kalau sekuriti melihatku masuk ke daerah sini, mereka berpikir aku mau duduk di dekat kolam itu.” Jari Erick menunjuk pada sebuah kursi dekat kolam. Tak jauh dari kolam itu ada sebuah lembah kecil. Terdengar jatuhan air deras dari kejauhan.

Erick menggandeng tangan Anne masuk ke lift. Punggungnya bersandar pada dinding setelah pintu lift tertutup. Keduanya terdiam sesaat. Pelan-pelan, Anne merasakan Erick tidak lagi memegang tangannya. Telapaknya ada diatas punggung tangannya. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan. Rasa hangat itu menjalar dari tangan. Titik demi titik perjalanannya membuat kepala Anne menoleh ke samping. Pandangannya bertabrakan dengan mata Erick. Ada senyum luka disana, pikirnya.

“Kamu takut?”

Raut Erick berubah. “Kenapa kamu berpikiran begitu? Apa wajahku nggak enak dilihat?”

Anne menggeser tubuhnya lebih dekat. Erick tidak ingin memandang mata itu. Ia kuatir Anne bisa membaca pikirannya lewat mata. Menunduk tidak mungkin. Anne lebih rendah tubuhnya. Mata Anne tetap mengejarnya.

“Kamu kuatir tidak bisa berubah? Aku sudah bilang. Jangan mengkuatirkan itu. Biarkan hal itu datang secara alamiah. Semakin kamu kuatir, semakin itu menjadi bebanmu. Berusaha tetapi tetap santai. Aku sayang sama kamu meskipun kamu tidak berubah.”

Erick ingin sekali melihat punggung Anne. Apakah ia menyembunyikan sepasang sayap? Apakah baju SMA yang dipakainya hanya kedok? Dimana ia meletakkan jubah putihnya? Benarkah di depannya berdiri salah satu malaikatNya?

Erick kembali yakin kalau Anne hanya manusia biasa. Jika ya, tak mungkin ia merasakan sentuhan pada bibirnya. Dan nafas yang mengalir melewati pulasan lipgloss, membawa aroma stroberi di hidungnya. Sesuatu mulai mencair dari hatinya, membuat lidahnya berkeinginan mencari hamparan untuk berlabuh sementara si empunya memejamkan mata.

“Terima kasih karena mencintaiku seperti itu, Ne.”

Tangan Anne meraba kedua pipi Erick. Ia menjawab dengan membiarkan Erick menautkan penghuni mulutnya. Anne lupa apakah ia masih menggunakan kakinya untuk berpijak. Terpaan semilir di kulitnya mengingatkannya ketika angin lembah menggelitik. Selinapan cahaya di matanya seakan-akan mentari yang semakin mendekati mereka berdua.

Bisikan Erick lebih rendah, “Apa kamu merasa aku manfaatin kamu?”

Anne menggeleng.

Erick mencoba merasakan sentuhan pipinya berjalan disamping wajahi Anne. Kehalusan berbeda. Dulu, ia tak merasakan seperti ini. Rasa ini seperti sutra. Tak ada bekas jambang. Nafas Anne yang didengarnya dari dekat tak menguarkan bau rokok. Ia sepenuhnya lembut, berbeda dengan dirinya.

Kringggg.

Erick kaget.

Anne tertawa kecil. Tangannya mengusap-usap mulut Erick. “Terima dulu. Bos kok pacaran melulu. Kapan kerjanya?”

Erick cengengesan. Ia berjalan menuju tempat telepon.

“Ada seorang wanita yang mengaku adik Bapak. Namanya Tania, beliau ingin bertemu Bapak.”

Erick menjauhkan gagang telepon dari mulutnya. “Kamu mau ketemu sama adik cewekku?”

Lingkaran di mata Anne terbentuk besar. Dagunya mengangguk. Ia masuk ke toilet dan duduk kembali tepat saat Erick membuka pintu. Mulut Anne menganga. Kalau saja ia tidak tahu jika yang datang adalah adik Erick, ia pasti akan salah sangka. Tania dan kakaknya sama tinggi. Rambutnya sebahu cenderung agak ikal. Warna rambutnya sepertinya coklat alami, bukan buatan salon. Apa dia keturunan bule? Warna matanya juga coklat muda. Anne yakin, Tania juga tidak memakai softlens. Anne menepis rasa iri dan bersyukur bahwa Tania adalah adik Erick.

Tania kaget melihat ada perempuan di ruang kerja Erick. Pandangannya melayang ke Erick.

“Tania, kenalkan dia Anne. Anne, ini adikku Tania Ludwina.”

Tania masih menyisakan pertanyaan di wajahnya, tetapi tak urung ia maju menyambut pelukan Anne.

She’s my girl.

Secara samar, Erick melihat Tania membelalakkan matanya. Mata besarnya tak membuat orang gampang menebak isi hatinya lewat matanya, tetapi Erick mengenal Tania sejak kecil; sudah lama ia belajar membaca isyarat samar pada mata Tania.

Bersambung...

Bagian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16

sumber gambar: Marie-Laurie, weheartit.com

Ingatlah Hari Ini (Bagian 13) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Good Dreamer

0 komentar:

Posting Komentar