Ingatlah Hari Ini (Bagian 11)

Anne melihat Erick membenahi alat pemanggang di gudang. Kepalanya melongok. “Mau kopi?” Erick mengangguk. Ia mencuci tangan dan menuju...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 10)

Anne mengenali sepeda motor itu. Biru tua. Ban sport botak. Rem cakram di depan dan belakang. Tangki bahan bakar besar dengan rantai per...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 9)

Pandangan Erick dan Anne tertuju pada hal yang sama. Seseorang beruban berdiri di depan pagar. Sorot matanya menembus kaca depan mobil. K...

Ketika Kita Masih Remaja

“Madeeeeee…awas kamu.” Dhea mempercepat langkahnya dari jalan cepat ke lari. Made sudah mendahuluinya. Bagaimana tidak? Made memakai seped...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 8)

“Cantik. Kecil. Terkendali.” “Apa maksudmu?” “Rumah kamu cantik. Segala perabotan saling menunjang. Ukuran rumahnya kecil. Dan kare...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 7)

“Gila..ini gila.” Gordon mengelus-ngelus dagu. “Bagaimana bisa rancangan pengeluaran kita bisa lebih lima puluh persen dari seharusnya?”...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 6)

Erick ragu untuk masuk. Ia berjanji untuk datang ke tempat ini berkali-kali. Baru kali ini ia merasa sudah saatnya, berharap orang yang ...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 5)

“Anne…Annnnneeeeeee.” Aurora bersusah payah menyamakan kecepatan berjalannya dengan Anne. Anne seakan tidak perduli. Kakinya seperti...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 4)

“Boooseeennnn.” Mulut Aurora membuka sedikit, matanya mengawasi Bu Silvi. Anne mengerling sebentar. Meskipun suara Aurora termasuk b...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 3)

“Oh, ya. Menjawab pertanyaanmu tadi, aku mau bilang, aku tidak pernah pacaran. Orangtuaku melarangku pacaran sampai aku kuliah.” “Kamu ...