Ingatlah Hari Ini (Bagian 15)

"Aku memang pernah menciumnya. Justru dari sana aku tahu Anne benar-benar menyukaiku. Bukan karena aku punya hotel ini atau bukan k...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 14)

Erick mengenal Tania sejak lama, tetapi tak urung dia merasa heran juga. Tania cepat membuat hubungannya dengan Anne seperti sahabat y...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 13)

Sudah keduakalinya, Anne mengeluarkan sapu tangan yang lebih mirip handuk kecil. Matahari masih terasa membakarnya meski ia sudah bertedu...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 12)

Matanya melihat ke kanan-kiri. Jalanan memang sepi. Pos Satpam terdekat berjarak lima puluh meter, tetapi bukan tidak mungkin tiba-tiba ...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 11)

Anne melihat Erick membenahi alat pemanggang di gudang. Kepalanya melongok. “Mau kopi?” Erick mengangguk. Ia mencuci tangan dan menuju...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 10)

Anne mengenali sepeda motor itu. Biru tua. Ban sport botak. Rem cakram di depan dan belakang. Tangki bahan bakar besar dengan rantai per...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 9)

Pandangan Erick dan Anne tertuju pada hal yang sama. Seseorang beruban berdiri di depan pagar. Sorot matanya menembus kaca depan mobil. K...

Ketika Kita Masih Remaja

“Madeeeeee…awas kamu.” Dhea mempercepat langkahnya dari jalan cepat ke lari. Made sudah mendahuluinya. Bagaimana tidak? Made memakai seped...

Ingatlah Hari Ini (Bagian 8)

“Cantik. Kecil. Terkendali.” “Apa maksudmu?” “Rumah kamu cantik. Segala perabotan saling menunjang. Ukuran rumahnya kecil. Dan kare...