Ingatlah Hari Ini (Bagian 4)


“Boooseeennnn.” Mulut Aurora membuka sedikit, matanya mengawasi Bu Silvi.

Anne mengerling sebentar. Meskipun suara Aurora termasuk berbisik, angin dari mulut Aurora mampir ke telinganya. Tangannya sendiri sibuk mencatat pemecahan soal kimia di buku. “Kamu bosan atau enggak, tetap aja kamu musti dengerin Bu Silvi ngomong.”

“Siang ini nonton, yuk? Ada film horor bagus.”

“Aku nggak suka horor.”

“Nggak horor banget. Ada romantis-romantisnya.”

“Horor ya horror. Enggak perduli romantis tetap aja horor. Lagian kita melihat di tempat-tempat yang gelap. Jadi horor beneran.”

“Emang ada bioskop terang benderang? Nonton aja layar tancep.” Aurora mencibir. “Kamu bisa ngajak cowok kamu. Aku entar juga ngajak Dewa.”

Anne tetap menulis tak menjawab. Aurora mendekatkan bibirnya di telinga Anne. “Emang enak—“

Belum sempat kalimat Aurora selesai, Anne menjerit. Pandangan seluruh kelas mengarah pada mereka. Bu Silvi berbalik. Matanya yang melotot tampak lebih besar sekarang di belakang kacamata minusnya.

“Kenapa kamu menjerit, dodol?” Bisik Aurora kencang. Bola matanya berputar ke kanan kiri.

“Geli tahu,” Anne melotot. Dadanya berdebar-debar menanti Bu Silvi berbicara.

“Sepertinya kalian lebih suka lari mengelilingi lapangan basket lima kali daripada memperhatikan pelajaran saya.” Bu Silvi membetulkan letak kacamatanya.

“Maaf, Bu.” Anne menunduk.

“Baiklah, saya maafkan. Tapi setelah kalian berdua mengelilingi lapangan basket lima kali dulu.”

***

“Ini gara-gara kamu.” Nafas Anne tersengal-sengal. Keringatnya mulai menetes di etape kedua.

“Siapa juga yang menjerit?”

“Mana aku tahu kamu mau ngomong dekat banget kayak gitu. Emangnya aku budeg?”

“Udahlah. Nggak usah diributin. Bersatu kita teguh, bercerai kita ke KUA. Kita—sama-sama dihukum, nggak usah saling menyalahkan.”

Tiba-tiba tangan Aurora menyeret Anne dan bersembunyi di barisan pohon-pohon cemara. Pohon itu terletak di pinggir lapangan, sebelah kiri sekolah. Tidak ada jendela yang menghadap ke pohon itu, sehingga posisi mereka tidak terlihat dari ruang-ruang kelas. “Bagaimana? Jadi enggak nontonnya.”

“Nggak punya duit.”

“Aku pinjami dulu. Bayar belakangan.”

“Namanya hutang sudah jelas bayar belakangan. Kalau bayar di depan, panjer dong namanya.”

“Alah.” Aurora menyapu muka Anne dengan telapak tangannya.

Anne cekikikan. Aurora cepat-cepat menutupi mulut Anne dengan tangannya. Dia tidak ingin kejadian dengan Bu Silvi terulang lagi.

“Ingat, Non. Tertawa maupun ngomong itu harus diatur. Kalau kamu ketawa ngakak kayak tadi, entar mbak-mbak kunti disini pada ikutan ketawa.”

Wajah Anne tegang. Dia langsung mendekati Aurora. Giliran Aurora yang terpingkal-pingkal. Anne mencubit pinggang Aurora.

“Ayo cepetan jawabnya.”

“Kenapa sih kamu enggak pergi berdua saja sama Dewa?”

“Nanti timbul hal-hal yang tidak diinginkan. Ayo dong, please.”

Anne berkacak pinggang. Mukanya terarah ke langit. Aurora heran, ia juga ikut-ikutan melihat ke langit. “Ada apa sih?”

“Lagi mikir.”

“Oh.” Aurora melipat tangannya.

Anne mengeluarkan ponselnya dan berjalan menjauhi temannya. Aurora menyandarkan punggungnya pada pohon, berharap Anne membawa jawaban iya.

“Ok, aku sama temanku juga.”

“Pasti cowok?”

“Kepo.”

***

“Cowok kamu tepat waktu, kan?”

“Dia bukan cowokku.”

“Lantas siapa, Papa-mu?” Aurora dan Dewa bertukar senyum.

Anne melihat-lihat ke sekelilingnya. Bibirnya terangkat penuh melihat ke arah tembok kaca disampingnya. Aurora yang melihatnya ikut-ikutan memandang ke arah pandangan Anne. Alisnya terangkat dengan muka datar. Kepalanya mendekati Anne. “Kamu ngajak Om-mu?”

Anne berbalik dan menyapukan telapak tangannya ke muka Aurora. “Am om am om. Enak aja bilang om.”

Aurora mendelik. “Cowok kamu?”

Anne berbisik, “Udah aku bilang. Dia bukan cowokku.”

Aurora masih bingung, tetapi tak sempat bertanya lagi karena pria itu mendekat.

“Halo semua. Teman Anne?” Pria itu mengulurkan tangan pada Aurora dan Dewa.

“Erick.”

Aurora tidak sadar menatap Erick terlalu lama. “Sepertinya saya pernah melihat Om? Dimana ya?”

Dewa menepis tangan Aurora. “Dewa, Om.”

“Oh, ya. Om pernah diwawancarai di TV, benar?” Aurora seperti melihat artis.

“Beberapakali pernah masuk TV.”

“Sebentar.” Aurora mengacungkan telunjuknya. “Acara penghargaan pengusaha teladan tahun kemarin. Benar, kan?” Aurora hampir menjulurkan lidah, tetapi ia cepat menguasai keadaan. Lidahnya ia tarik lagi, tepat sebelum Anne mendelik ke arahnya.

“Sepertinya begitu.” Erick tersenyum. Anne mencium bau yang tak biasa. Bau wangi seperti rempah, yang tak biasa ia cium jika ada cowok-cowok di sekolah sedang mengelilinginya.

“Ok, sekarang kita langsung nonton apa makan?”

Aurora langsung menyambar, “Makan.”

Sedetik kemudian, terdengar suara Anne, “Non—ton.”

Anne dan Aurora berpandang-pandangan.

“Kurang lima belas menit. Sebaiknya kita langsung nonton.” Dewa menengahi dua cewek yang sama-sama menaikkan alisnya. Kedua pria itu menggandeng masing-masing gadis itu memasuki bioskop.

Erick melepas sweaternya sesampai di ruang tonton.

“Entar enggak kedinginan?”

“Dari kecil aku hidup di daerah pegunungan. Kerja juga di ruang ber-AC. Jadi suhu di bioskop ini malah agak hangat menurutku.”

Anne berusaha membuat dirinya duduk dengan nyaman. Ia berusaha menyudahi kenyataan bahwa degup di dadanya tambah cepat.

Apa-apaan sih? Apa karena belum makan?

Aku baru mengenalnya. Memikirkannya tidak pernah. Apalagi menyadari kenyataan bahwa Erick menganggap jenisnya sama seperti anggapan Anne pada Aurora.

“Eh,” Anne berbisik. “Aku boleh entar naruk kepalaku disini.” Telunjuk Anne mengarah pada lengan Erick. Ia tidak melihat mata Erick yang membulat, tetapi Anne merasa Erick heran pada dirinya.

Duh. Norak. Kayak pesen tempat. Kenapa gitu aja diomongin?

“Aku takut lihat film horor.”

“Lantas kenapa kamu mau lihat sekarang?” Erick ikut berbisik-bisik.

“Cuma nemenin dia.” Dagunya menunjuk Aurora.

Anne bisa melihat mata Erick lebih jelas ketika kepalanya mendekat. Tidak ada rasa risih. Ia tahu Erick tidak akan memandangnya dengan keinginan seorang pria pada umumnya. Justru hatinya merasa teduh saat tangan Erick membimbing kepalanya agar tergolek pada lengannya. Anne sedikit mengeluh, ia masih ingin melihat mata itu entah dengan alasan apa. Ia tidak berhasil menemukan alasan kepada dirinya sendiri.

Erick merasakan nafas Anne melalui lengannya. Kecepatan nafasnya bukan kecepatan orang tidur. Anne masih sadar meski matanya terpejam. Beberapakali badan Anne menegang, suatu tanda telinga Anne masih mendengar suara film.

Pada pertengahan film, Erick merasakan nafas Anne menderu. Tangannya tidak lagi menyentuh lengannya, tetapi mencengkeram. Erick menutupkan sweaternya ke badan Anne. Matanya sedikit terbuka, meski sekilas, Erick bisa membaca ucapan terima kasih pada matanya.

Aurora kadang-kadang menyondongkan badannya ke depan. Suatu kali berpura-pura membetulkan sepatu ketsnya. Dua kali bersikap seakan-akan punggungnya pegal. Ketika kembali menyadarkan punggung, matanya melirik pada Erick dan Anne. Mulutnya mengerucut.

“Ada apa sih? Kayak cacing kepanasan.“ Dewa merasa ada yang aneh pada Aurora.

“Katanya bukan pacar, kenapa mesra banget?”

“Kalau memang bukan pacar tapi mesra lantas kenapa? Bukan urusan kita. Kamu pengin aku mesra in juga?”

Aurora menyibirkan mulut.

Bersambung ke Bag 5 , Bag 6, Bag 7 , Bag 8

Sebelumnya: Bag 1, Bag 2, Bag 3

sumber gambar: Marie-Laurie, weheartit.com

Ingatlah Hari Ini (Bagian 4) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar