Tunggulah Aku Disana


“Cici nggak dengar suara biola?” Maria bertanya setelah keduanya baru saja melewati gerbang.

Siska tersenyum. “Ya, aku dengar,” suaranya semakin hilang ketika Ia melangkahkan kakinya lagi.

Maria cepat-cepat menyusul. “Siapa yang main biola disini?”

“Kamu tuh kebanyakan lihat film horor. Lihat disana.”

Maria mengikuti arah telunjuk Siska. Di samping makam tampak seseorang sedang duduk bersila. Sebuah biola ada di bahu kirinya. Rambutnya agak panjang. Bajunya lusuh.

“Cici kenal?”

Siska mengangguk. “Pacarnya Martha.”

Maria menelan ludah. Bagaimana mungkin Ci Martha punya pacar model beginian? Ujarnya dalam hati.

Bunyi gemeletak batu-batu kerikil membuat pria itu menghentikan permainannya. Ia lantas menggeser duduknya menjauhi makam beberapa meter. Di sana, di bawah pohon, pria itu berteduh sambil terpekur. Mukanya menghadap ke bawah.

“Ci,” desis Maria. “Yakin dia gak ngapa-ngapain kita.”

Siska menggeleng. “Sewaktu Martha masih hidup, dia sering ke rumah. Aku sering ngobrol sama dia.”

“Sejak kapan dia di sini?”

“Sejak Martha meninggal.”

“Sejak tahun 1998?”

Martha mengangguk. “Mangkanya, sering-sering pulang ke Indonesia. Jangan tahunya cuma Sydney. Udah. Kita sembahyang kubur dulu.”

Setelah sembahyang kubur, Maria melihatnya lagi. Siska menyampirkan telapak tangannya di pundak Maria. Kepalanya turut menatap ke arah pandangan Maria. “Aku belum pernah lihat orang yang demikian hancur karena cinta. Berbahagia sekali Martha punya seseorang yang sedemikian besar menyanyanginya.”

“Ci Siska sudah pernah berbicara dengan dia dalam keadaannya yang seperti ini.”

Siska mengangguk. “Sehari setelah pemakaman—Papa, Mama dan Aku—mencoba mengajaknya berbicara. Tapi dia cuma membisu seperti ini.”

Maria tidak berani bertanya lebih jauh. Pertanyaan tentang peristiwa Mei 1998 itu sangat sensitif. Bukan hanya bagi sepupunya,  Siska, dan keluarganya tetapi bagi semua kalangan Tionghoa, terutama di Jakarta.

***

Maria kembali keesokan hari. Kali ini dia hanya seorang diri. Semalaman ia memikirkan cara untuk mengelabui Siska dan keluarganya. Dia tidak ingin mereka tahu bahwa dia kembali ke makam ini.

Laki-laki itu memainkan biola seperti kemarin. Sometimes When It Rains menyeruak di antara bong-pai. Tekanannya demikian pedih. Suaranya pelan; mengajak hati siapapun  berdansa dengan rasa perih.

Suara biolanya berhenti. Telapak sepatu Maria membuat kerikil-kerikil berbunyi. Maria sempat menangkap pergerakan kepalanya ketika dia datang mendekat. Pria itu pasti terkejut karena suara yang di dengarnya semakin dekat. Maria takut-takut duduk disampingnya. Pria itu bergeming. Ditariknya nafas panjang-panjang sebelum berkata. “Nama saya Maria. Saya sepupu Martha.” Maria mengulurkan tangan. Namun menariknya lagi beberapa saat kemudian.

 “Boleh aku potong rambutmu? Aku bawa gunting.”

Maria merasa bodoh. Dia dan pria ini belum berkenalan, dan dia sudah menawari untuk memotong rambutnya. Tetapi harus bicara apalagi? Di otaknya hanya terpikir, “Jika orang merasa nyaman maka orang itu pastilah dapat diajak berbicara.” Bagi Maria, memotong rambut akan membuat pria ini nyaman. Dia suka cowok berpenampilan rapi. Dan Maria yakin pria ini pastilah pria yang tampan. Maria tahu sekali selera Martha.

Maria nekat. Dengan takut-takut, diambilnya bagian bawah rambut pria itu. Ia menggenggamnya sesaat untuk mengetahui reaksinya. Pria itu diam saja. Maria lega. Ia mulai berani memangkas rambut pria itu sedikit demi sedikit.

Jantung Maria hampir copot ketika jari-jarinya bersentuhan dengan lehernya. Pria itu melirik Maria dan memutar kepalanya.

Maria tidak salah. Pria itu memang tampan. Sayang, rambut pada pipi dan sekitar mulutnya telah penuh. Matanya cowong. Maria tahu, mata tidak mungkin bersinar, tapi mata selalu berpendar seiring dengan hati pemiliknya. Pria di depannya ini sudah kehilangan hatinya, tenggelam di dalam pelukan sepupunya dibawah sana.

“Kamu pemberani seperti Martha.”

Ya. Ampun. Bahkan suaranya juga tampan. Apa benar dia orang indonesia? Atau mungkin penyanyi korea yang terdampar di sini?

“Martha gadis berani. Terlalu berani. Sampai-sampai dia kehilangan nyawa. Aku sudah mencegahnya untuk pergi ke Bundaran H.I. Tapi dia tidak mau mendengar. ” Suaranya menjadi bergetar. Matanya terpejam. Ia mencoba mengatur nafas agar tampak normal.

“Kenapa Ci Martha kesana?”

“Keadaan saat itu benar-benar kacau,”  Temannya menelepon agar menjemputnya. Dia ketakutan karena banyak orang-orang bertato di jalan waktu itu. Mereka mencari-cari orang cina dan—“

“Ya. Aku tahu maksudmu.” Maria melamunkan kejadian Mei 1998 silam. Orang cina dirampok. Diperkosa. Dibakar, barang-barangnya dijarah. Harkat manusia yang mulia seketika menjadi lebih buruk daripada sampah.

“Martha pergi untuk menjemputnya.”

Maria tak perlu mendengarkan kelanjutan ceritanya. Cerita-cerita horor mengenal hal itu sudah berulangkali di dengarnya. Pria disebelahnya kembali menunduk; menjadi patung hidup. Maria berdiri, berjalan menuju gerbang makam. Ia memutar kembali tubuhnya sesaat sebelum memasuki pintu mobil karena pria itu berteriak, “Namaku Aldo”.

***

Maria melangkah di tangga jembatan penyeberangan. Keringatnya menetes deras. Ia tergesa-gesa berjalan karena film yang akan ditontonnya segera diputar. Andai restoran penjual ayam goreng krispi yang menjadi favoritnya tidak terletak di luar mall, ia pasti malas harus bersusah payah menyeberang jembatan.

Ketika sampai di akhir tangga atas, ia melihat ujung jembatan. Agak mengerikan, pikirnya. Beberapa bagian besi di pinggir terlihat berkarat. Cepat-cepat dihapusnya bayangan jatuh ke arah jalan dibawahnya.

Beberapa langkah sebelum ujung jembatan, ia berpapasan dengan seorang pengamen biola. Setelah mengamatinya, Maria mendekat. Ia meletakkan selembar uang di tempat biola yang terbuka. Mata mereka bertatapan. Aldo tersenyum sambil mengangguk. Suara biolanya kembali terdengar. Maria melanjutkan perjalanannya. Sebelum sempat berbelok, Maria hampir menabrak dua orang pemuda yang datang dari arah yang berlawanan.

“Wah, ada singkek. Cacat lagi. Calon cantik.” Seru laki-laki bertubuh kecil, ia menoleh pada temannya, si tubuh besar. “Gimana Bro. Embat?”

Si Besar melihat-lihat keadaan jembatan. Sambil tersenyum ia merangsek maju. Maria mundur ketakutan. Di dekapnya tasnya erat-erat.

“Ayo, Sayang. Kenapa takut?”

Belum sempat kata-katanya selesai, si Gendut berteriak kesakitan memegangi perutnya. Matanya jalang menatap Aldo. “Mau ikut campur, lo?”

Sekonyong-konyong Maria berteriak. Mulutnya menganga melihat baju Aldo memerah. Di sampingnya, si Kecil tampak tertawa memegang pisau lipat yang memerah.

“Lo Gila, Jang.” Si Besar melotot. “Lari! Bodoh. Lari.” Si Kecil wajahnya tampak ciut, dalam hitungan detik ia mengejar temannya menjauhi Aldo.

Aldo terduduk di sudut jembatan. Tangannya memegang perut. Darahnya merembes sampai lantai jembatan. Dua pengemis yang dilewati Maria berlari mendekatinya.

“Telpon. Ambulan. Tolong telpon ambulan.” Maria berteriak ketakutan. Pandangannya kabur oleh lelehan air mata. Kedua pengemis bergegas menuruni jembatan dan berteriak-teriak minta tolong.

Tangan Aldo yang masih bebas mencengkeram lengan Maria. Badannya mengejang.

“Tidak perlu, Maria.”

“Kamu pasti selamat, Do.”

Aldo menggeleng. “Dengar Maria. Aku beritahu kamu satu rahasia. Aku sudah menyimpannya sejak lama—.” Hidungnya mencari sebanyak mungkin udara, seakan-akan udara adalah bahan bakar tenaganya.

“Aku bohong sama kamu. Kejadian sebenarnya adalah—aku pengecut. Orang-orang itu menangkap Martha. Dan mereka—” Tangis Aldo pecah. Tak mungkin berpura-pura disaat ia sadar bahwa sebentar lagi mulutnya akan bungkam selamanya.

“Aku pengecut. Pengecut, Maria. Aku membiarkan mereka melakukannya. Aku takut mereka membunuhku.” Cengkeramannya melemah, tetapi matanya mencari-cari sesuatu pada pandangan gadis itu. Mata Maria membulat. Sesaat Aldo melihat sebuah kemarahan yang samar, namun dengan melemahnya cengkeramannya, Aldo justru merasakan tangan Maria membopong sebagian tubuhnya. Lingkaran tangan Maria pada bahunya membuat tubuhnya yang dingin menjadi sedikit lebih hangat.

“Aku sudah ingin mati bertahun-tahun yang lalu, tapi aku tidak ingin bunuh diri. Aku pengin ketemu Martha; tidak masalah jika hanya di depan pintu surga. Tuhan pasti tak mengijinkan surgaNya dikotori oleh pengecut sepertiku.”

“Setiap orang punya kesalahan, Do,” ucap Maria lirih. “Bukan dosa yang dihitungNya, tetapi seberapa besar kehancuran hati yang mengiringi sebuah maaf.”

Maria mendengar suara sirene di bawah jembatan. Derap kaki menghantam anak tangga semakin mendekat. Orang-orang berpakaian putih ada di samping Aldo. Maria melepas pelukannya saat tak di dengarnya suara Aldo. Ia menunduk. Dari sudut matanya, ia melihat tangan Aldo menggantung lemah.

Tunggulah Aku Disana Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar