Pelabuhan Hati (Bagian 1)


Kakinya hendak melangkah lagi tetapi pandangan matanya membuatnya terhenti. Ini bukan pertama kalinya. Pria itu selalu ada di telaga buatan dekat sekolahnya. Selalu duduk dekat gazebo. Di pagar kayu gazebo ada secangkir kopi mengepul. Pakaiannya sederhana. Seperti kebanyakan orang memancing. Bercelana sampai lutut, memakai topi bundar. Kulitnya terlihat kusam. Bertolak belakang dengan wajahnya yang memenuhi kualitas wajah sampul majalah.

“Hei.” Suaranya parau, membuat pria itu menoleh dengan terkejut. Kepalanya melihat keadaan sekitarnya kemudian kembali menatap penyapanya.

“Ngomong sama saya?”

“Kalau bukan sama Om berarti saya ngomong sama hantu karena disini cuma kita berdua.” Pantatnya terbanting di sebelah pria itu.

Pria itu melihat jam tangan. “Kamu masih sekolah? Kamu bisa terlambat kalau enggak masuk sekarang.”

“Jam masuk masih kurang setengah jam. Sekolah saya juga bisa dilihat dari sini. Lima menit jalan juga sudah nyampe.”

Pria itu terpekur menatap kolam lagi.

“Saya sering melihat Om mancing disini.”

“Disini ikannya banyak.”

“Jelas saja. Pembuat telaga ini memang sengaja menabur benih ikan disini.”

“Sekarang pergilah. Kamu bakalah terlambat.”

Si Penyapa mengambil nafas panjang. Ia mengangkat pantatnya sambil mengeleng-gelengkan kepala.

Esok pagi, si penyapa kembali lagi menyapanya. Pria itu menoleh lagi. Mulutnya terbuka.

“Saya tahu. Om akan bilang saya terlambat? Saya cuma kasih ini,” ia mengambil kotak plastik. “Sarapan saya terlalu banyak. Om mau roti ini. Maaf cuma isi selai doang.” Tangannya menyodorkan kotak.

Pria itu menerimanya. Kali ini dia tersenyum. “Ma, kasih. Besok aku kembalikan.”

“Om enggak mancing siang-siang?”

Pria itu tersenyum lagi. Kepalanya menggeleng.

“Ya, aku tahu. Om bekerja kalau agak siang? Ya, udah Om. Met pagi.” Ia berbalik arah menuju sekolah.

Esok lagi. Lagi-lagi. Lagi…

Suara kakinya cukup keras. Dak duk dak duk. Ia setengah berlari dari jalan besar ke jalan setapak untuk sampai ke tempat pemancing itu sedang duduk.

“Hei.” Tanpa dipersilahkan, ia duduk di sebelahnya.

Pria itu cepat-cepat merogoh-rogoh tas ranselnya. Tangannya mengacungkan kotak makanan. “Sudah aku cuci. Rotinya enak. Sepertinya bukan roti yang biasa dijual di supermarket.”

“Mama yang buat sendiri.”

“Oh, ya. Mamamu punya toko roti?”

Yang ditanya menggeleng.

“Sayang sekali. Seharusnya mamamu membuka toko roti. Kalian pasti kaya.”

Pria itu melihatnya merogoh tas ranselnya lagi dan mengeluarkan kotak makanan lagi.

“Saya baru buat nasi goreng. Tolong Om nilai, apa saya pantas buka restoran?” Pria itu tahu, lawan bicaranya hanya menggodanya.

“Sebentar.” Matanya mengamatinya. “Kenapa kamu tidak pakai seragam sekolah?”

Ia tertawa. “Om pasti kebanyakan mancing, sampai tidak tau kalau sekarang hari Sabtu.”

“Hari Sabtu kan masih hari sekolah.”

“Di sekolah internasional tidak. Hari Sabtu hari libur.”

“Oh, itu sekolah internasional, ya? Saya enggak pernah perhatikan.” Pandangannya tertuju pada bangunan berwarna abu-abu di seberang telaga.

Pria itu tampak manggut-manggut menikmati nasi goreng. Jari-jarinya terkadang mencari udang yang dipotong terlalu kecil atau telur orak-arik yang terlanjur hancur berkeping-keping. Ia tak sadar pemberi nasi goreng itu kadang menyembunyikan senyumnya.

“Enak? Jujur, ya, Om?”

Pria itu berhenti mencari-cari daging pada tumpukan nasi, kepalanya berpaling ke arahnya.

“Enak. Ini beneran enak. Dua poin buat kamu. Roti tadi sama nasi goreng ini. Tapi sebentar—“ Wajahnya tampak kaku. “Ini bukan bekal makanmu kan?”

“Buat apa? Saya tidak sedang sekolah. Itu saya buat untuk Om.” Ia mengulurkan tangan, “Oh, ya. Nama saya Floriana.”

Pria itu mengusap-usap telapak tangannya di saku celana, lantas menjabat tangan Floriana. “Panggil saja Rommy.”

Rommy kembali asyik melihat pelampung pancingnya sebelum memutarkan senar pancing pada jempol kakinya. Kemudian disandarkan punggungnya pada sebatang pohon, siap-siap untuk memejamkan mata. Tetapi ketika lirikan matanya menangkap wajah tanpa ekspresi Flori, ia menegakkan punggungnya lagi.

“Kenapa kamu percaya sama aku?”

“Apa tidak boleh?”

“Kita ditempat sepi. Kamu aku. Laki-laki. Wanita.”

“Jika Om pelaku kejahatan, saya tidak mungkin dua minggu ini melihat Om disini terus. Om pasti sudah pergi ke tempat lain.”

“Kalau aku berpura-pura baik agar kamu tertarik?”

“Kalau memang seperti itu, Om pasti tidak menanyakan pertanyaan tadi. Itu sama saja Om membuka rahasia.”

Rommy menyentuhkan punggungnya pada pohon. Dia sudah bermaksud benar-benar tidur.

“Om enggak kerja?”

Mata Rommy sedikit terangkat. “Enggak.”

“Terus gimana Om makan tiap hari? Cuma sama ikan ini.”

Rommy membuka mata penuh. Bayangan santai sejenak hilang. Ini tidak enaknya berbicang dengan wanita. Ada kalanya cara berbicara mereka seperti kereta api berbahan bakar penuh. Seharian mendengar suara mereka tanpa henti sampai lupa kalau kita juga ingin menikmati keheningan sejenak.

“Okelah. Karena kamu sudah berbaik hati memberi aku roti dan nasi goreng, aku akan mengundangmu ke tempatku supaya kamu tahu aku kerja apa.”

“Jadi Om kerja? Kok masih bisa mancing?”

Rommy mendengarkan celotehan Floriana sampai beberapa menit ke depan. Pandangannya menghablur karena kesadarannya menurun. Tetapi itu pun tidak lama. Lengannya terguncang-guncang karena Floriana menghentaknya.

“Om, pancingnya gerak-gerak.”

Rommy terkejut dan membuka mata. Pandangannya mencari-cari pelampung pancing. Rommy dan Floriana berebutan menarik pancing. Yang terjadi bukannya dapat, ikannya malah terlepas dari kail dan berenang menjauhi mereka dengan meninggalkan cipratan air ke arah mereka.

Rommy tertawa melihat muka Floriana. Beberapa tanaman air yang kecil-kecil tertempel di wajahnya.

“Andai Om bisa lihat wajah Om sendiri.” Floriana tertawa karena bintik-bintik hitam lumpur menutupi sebagian wajahnya.

Rommy memberikan handuk kecil pada Florianan. Dari bahasa tubuhnya, Floriana tahu maksud Rommy. Setelah selesai mengelap wajahnya, tangan Floriana terjulur mengusap wajah pria di depannya. Ia hendak mencegah, tetapi entah kenapa mulutnya terkunci. Matanya melirik keadaan sekitarnya. Ia berharap orang-orang yang lewat di seberang sana tidak memperhatikan mereka.

“Terima kasih.” Rommy berkata sambil menelan ludah. Ia menerima kembali handuk dan memasukkan ke dalam tas.

Suasana hening. Rommy sendiri tidak tahu, kenapa ia cuma diam. Seharusnyalah dirinya sendiri yang banyak bicara. Gadis itu sudah berbuat baik padanya. Masa cuma diam. Tetapi Rommy sendiri juga bingung harus berbicara apa. Gadis ini baru dikenalnya. Dia tidak tahu apa kesenangannya. Apa hobinya. Dan yang penting adalah kenapa gadis ini berbuat baik pada dirinya. Bukan cuma Floriana yang sering melihatnya memancing setiap hari disini. Jika alasannya adalah melihatnya setiap hari, maka bukan cuma Floriana yang berbaik hati seperti ini. Rommy ingin tahu, tetapi ia tidak punya cara untuk berbicara lebih jauh.

“Kok jadi diam?” Floriana menyisir rambutnya.

“Udah terlalu sore. Sebaiknya kita pulang.”

Garis-garis tegang muncul di wajah Floriana.

“Apa besok Om mancing lagi?”

“Tidak. Besok saya mau istirahat di rumah.”

“Boleh ke tempat Om?”

Rommy terhenyak. Pikirannya mencoba mencari tahu kenapa Floriana tampak senang sekali berbicara pada dirinya. Tetapi cepat-cepat Rommy menepis pikiran-pikiran buruk. Floriana gadis muda, pikirnya. Saat-saat seperti ini pastilah masa-masanya dia mencari banyak teman.

“Apa mamamu menginjinkan kamu datang ke tempatku?”

“Mama pasti tidak keberatan.”

Rommy tidak punya alasan menolak. Ia menuliskan alamatnya pada tisu dan menyerahkan pada Floriana.

“Met ketemu. Ma kasih udah nemenin aku.”

Floriana memperlihatkan deretan giginya. Mereka berjalan bersama menuju jalan besar.

Bersambung ke Bag 2 , Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6 , Bag 7 , Bag 8 , Bag 9
 
Sumber gambar: pinterest.com 

Pelabuhan Hati (Bagian 1) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar