Singapurna (Bagian 4) TAMAT




“Tidak, Nek. Baginda adalah orang yang sangat bijaksana. Beliau tidak akan melakukannya seandainya Baginda tidak menginginkan cerita Nenek.”

Nenek Singkang memikirkan dalam hatinya. Umurnya sudah tua, cepat atau lambat dirinya pasti akan menemui ajal. Jika Raja sampai memacungnya karena marah, Nenek akan menerimanya.

“Baiklah. Nenek sekarang akan ke istana. Cerita apa yang harus Nenek jual?”

Catik tersenyum. Ia mulai mengisahkan sebuah cerita.

***

“Hei, siapa kamu?” Hulubalang istana menghalangi Nenek dengan tombaknya.

Nenek Singkang takut. Sinar matahari yang memantul dari tameng hulubalang menyilaukannya.

“Hamba orang dari dusun dekat Bukit Air Hangat, Tuanku. Hamba kemari hendak menemui Raja.”

“Ada urusan apa kamu ingin menemui Raja?”

“Hamba ingin menjual cerita pada Baginda.”

Hulubalang itu tertawa terbahak-bahak. “Tak kurang-kurang Raja mendengarkan cerita dari juru dongeng istana, dan kamu mau menjual cerita pada baginda?” Hulubalang itu tertawa lagi. “Pergi kamu. Jika tidak aku akan memukulimu.”

Nenek tidak mau pergi. Dalam benaknya tergambar wajah Catik yang memintanya melakukan ini semua. Hulubalang mulai memukuli Nenek itu. Beberapa orang dari bagian dalam istana melongok keluar ketika mendengar suara ribut-ribut. Raja yang kebetulan melintas tempat itu bertanya pada mereka, “Ada apa kalian semua melihat keluar jendela?”

“Maafkan kami Baginda. Kami mendengar suara orang menjerit-jerit di luar karena Tuanku Hulubalang memukulinya.”

Baginda merasa heran. Tidak biasanya Hulubalang begitu keras terhadap seseorang. “Suruh orang itu masuk menghadapku.” Baginda berjalan menuju singgasana.

“Ampun beribu ampun Yang Mulia. Hamba, Hulubalang raja menghadap.”

“Kenapa kamu memukuli Nenek itu?”

“Dia orang dari Dusun dengan Air Hangat, Tuanku. Dia hendak menjual cerita pada Baginda, tetapi hamba mengusirnya.”

“Menjual cerita.” Baginda mengeryitkan kening.

“Berapa aku harus membayar ceritamu, Nek?” Matanya mengamati perawakan Nenek Singkang.

“Maafkan hamba Yang Mulia.” Suara Nenek bergetar, “Seratus keping emas.”

Baginda terkejut. Orang-orang di sekitar singgasana tertawa hebat. Bahkan salah satu dari mereka mengeluarkan air mata.

“Ceritamu pastilah bagus sehingga engkau menjualnya dengan harga seratus keping emas. Baiklah, ceritakan padaku. Aku penasaran, cerita apa yang berharga seratus keping emas.”

Nenek mulai bercerita. “Suatu hari, seorang raja dari negeri seberang mengirim kedua puteranya, yaitu Catuk—“

Baginda terperanjat. “Itu namaku, Nek.”

“—Dan Catik.”

“Hei, Nek. Itu nama adikku. Bagaimana Nenek tahu nama adikku?”

“Catik-lah yang menyuruh hamba kemari.”

“Bawa aku ke adikku, Nek. Sudah lama aku mencarinya. Aku merindukannya.”

“Hamba mengajukan syarat sebelum hamba melanjutkan cerita.”

“Oh, ya? Apa itu?”

“Hamba memohon, Tuanku mendatangkan tiga pembunuh singa betina dan tiga orang penjual bunga, Loksa, Hambilong, Parasya di Pasar Air Hangat.”

Raja memerintahkan punggawa istana mendatangkan orang-orang yang diminta Nenek. Setelah mereka tiba di istana, Nenek melanjutkan ceritanya. Baginda merasa marah ketika cerita Nenek sampai pada bagian pembunuh singa.

“Jadi pembunuh singa betina itu adalah Catik?” Raja menatap marah kepada ketiga orang penebang pohon yang gemetar.

“Punggawa! Pancung pembohong ini.”

Ketiga orang itu berteriak-teriak meminta ampunan, tetapi Raja tidak menghiraukannya.

Saat Nenek menceritakan bagaimana kedua penjual bunga memukuli Catik, Baginda kembali murka. “Punggawa! Seret orang-orang ini ke penjara.”

Kemudian Nenek tiba pada bagian akhir, ketika ketiga orang pencari ikan menolong Catik.

“Bendahara istana!”

“Ya, Yang Mulia.”

“Beri ke tiga orang baik ini, masing-masing seratus keping emas.”

“Nah, Nek. Sekarang hantarkan aku ke adikku, aku ingin menemuinya.”

Nenek, Raja dan beberapa prajurit istana berangkat menuju Dusun Air Hangat. Nenek membawa Raja ke dalam gua, tempat Catik mencari tanah liat untuk membuat periuk. Tapi malang, belum sempat bertemu, terjadi longsor di dalam gua. Catuk, Catik dan Nenek tewas tertimbun di dalam gua.

TAMAT

Sebelumnya: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3

Sumber gambar: thestarts-themoon.tumblr.com

Singapurna (Bagian 4) TAMAT Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar