Perjalanan


Aku sering melihat film-film horor. Ada sesuatu yang sering kulihat disana dan sering kutertawakan. Mereka sering mempertontonkan bahwa sebuah barang bisa dihantui oleh roh-roh tertentu. Misal, boneka seorang anak dihantui oleh anak itu sendiri setelah dia mati. Benda-benda lainnya bisa berupa, mobil, sepeda motor, kaca, bahkan rumah. Semula aku tidak percaya hal-hal seperti ini. Bagiku, ketika seseorang mati, roh orang itu pastilah masuk alam baka. Tetapi setelah mengalami suatu kejadian, aku memahami suatu hal, Tuhan terkadang masih menutup pintu alam baka terhadap roh-roh tertentu. Mungkin saja ini terjadi karena roh-roh tersebut masih punya keterikatan pada dunia ini. Bisa saja mereka masih punya janji, hutang, atau justru tidak-terima dengan kematiannya sendiri. Tuhan Yang Mahakuasa dengan kerahimannya yang luar biasa mengampuni mereka lewat kesadaran roh-roh itu sendiri.
***
Sudah agak malam, ketika aku tiba di daerah ini. Dari suara guruh di langit, kuduga akan turun hujan. Aku sendiri tidak bisa melihat langit. Pohon-pohon disini lebat. Sepanjang beberapa kilometer sejak aku meninggalkan daerah berpenduduk, kanan-kiriku dipagari semak. Aku memang harus melewati daerah sini jika ingin cepat-cepat sampai kampung halamanku, jika tidak, aku harus melewati jalan beraspal penuh lubang di seperempat perjalananku, lantas berganti jalan tanah memutari perbukitan. Butuh dua jam perjalanan. Tetapi jika melewati jalan pintas ini, aku butuh satu jam saja.

Tempat aku dilahirkan memang bukan kampung biasa. Terletak di ketinggian gunung. Panorama menuju kesana cukup indah. Tak jarang aku menemui sungai berair jernih yang sering menggodaku untuk meminumnya. Anehnya, aku tidak pernah sakit perut karena air itu.

Beberapa tahun silam ayahku mengirimku ke kota. Di akhir masa SMA, aku menerima beasiswa ikatan dinas selama sepuluh tahun. Sepanjang waktu itu aku belum pernah pulang ke rumah. Rinduku sudah menggunung. Apalagi sewaktu aku berangkat, aku hanya berkirim surat kemari. Maklum, disini tak ada alat komunikasi apapun. Jadi jangan bayangkan ada TV, radio, ponsel atau parabola. Surat itu diletakkan di kantor kepala desa. Orang-orang dari desaku yang sedang turun gunung-lah yang mengambilnya. Oleh karena itu, sekarang pun aku tidak memberitahukan kepada mereka akan kepulanganku ini.

Air liurku menetes membayangkan ibuku membayangkan masakan kesukaanku. Tidak terkira bagaimana lamanya aku memeluk Minang Ha, adikku, nantinya.

Nafasku tersengal-sengal. Sepertinya aku melihat asap keluar dari mulutku. Aku duduk sebentar pada kayu pohon besar yang melintang. Aku tidak menduga kalau merasa kedinginan seperti ini. Di negara tempat aku belajar, hawanya bisa kurang dari minus 15 derajat Celcius, tetapi kenapa di tempat ini aku masih merasa kedinginan?

Aku berdiri di bagian akhir perjalanan. Di depanku ada ngarai dalam. Lubang alam inilah yang memisahkan tempat aku berdiri dengan kampungku di seberang. Untuk sampai kesana, orang-orang sering lewat jembatan darurat. Keadaan jembatan lumayan mengerikan. Bagian-bagiannya diambil dari alam. Ada balutan rotan, potongan-potongan dahan, dan tali-tali tradisional dari kampungku.

Aliran udara lebih terasa ketika sampai ditengah-tengah jembatan. Aku tidak hanya merasakan angin. Hantaman angin pada dinding-dinding lembah menyebabkan bunyi serupa bisikan. Kakiku gemetaran. Jembatan bergoyang-goyang pelan. Setiap ayunannya membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku tidak bisa melihat dasar lembah karena cuma hitam pekat.

Aku bernafas lega ketika sampai di ujung jembatan. Dengan rasa penuh kemenangan aku melihat ke arah belakang, tempat jembatan menggantung. Aku kucek-kucek mataku. Tak ada jembatan. Aku seperti berdiri di suatu tempat yang dikelilingi kabut tebal. Karena masih tak percaya, aku melangkah sampai bibir tebing. Tak ada bekas-bekas jembatan samasekali. Aku menghibur diriku dengan menyakini bahwa jembatan tadi pasti rusak karena beban tubuhku dan jatuh ke dasar lembah.

Kesunyiannya membuat aku heran, padahal.dari jauh sudah kulihat beberapa bentuk bangunan. Tak ada sumber sinar satu pun. Rasanya aneh jika tidak ada orang yang menyalakan obor. Biasanya orang-orang desa berkumpul di tengah-tengah perkampungan untuk menyalakan api unggun. Laki-laki akan mengobrol dengan kopi di gelas. Kopi….hemmmm aku jadi ingin menghirum baunya dalam-dalam. Banyak kopi yang kusesap di luar negeri, tetapi kopi kampungku tetap nomor satu. Orang-orang di kampungku selalu mencampurkan air rebusan daun kopi di kopi mereka.

Aku melihat wanita di pintu gerbang desa. Jantungku berdebar-debar. Siapa dia? Hantu-kah? Sial…kenapa justru ketika aku pulang suasana jadi gelap-gelapan, sih. Tapi sebentar…sepertinya aku mengenal wanita ini.

“Minang Ha?”

Syukur terhadap cahaya bulan. Aku bisa melihat senyumnya. “Benar, kan, kamu Minang Ha?” Aku berlari dengan penuh kerinduan. Gadis kecil berbau ompol itu menjadi wanita cantik. Minang Ha memelukku erat-erat. Suara tangisnya pecah. Kami menangis bersama-sama. Aku tidak perduli bahwa aku ini cowok. Memangnya air mata hanya untuk cewek?

“Minang Ha, kenapa kampung kita gelap? Kemana semua orang.”

Air mata Minang Ha semakin deras. Dipeluknya bahuku sekali lagi. Kalau saja aku tidak dengan susah payah melepasnya, paru-paruku pasti kosong dari oksigen. Adikku membimbingku untuk duduk di beranda rumah.

***

Suara gendang mirip prajurit berderap-derap. Orang-orang menari-nari dengan mata terpejam di sekeliling Minang Ha. Beberapa orang duduk di sekitarnya. Pak Bong Ke—ayah Minang Ha duduk di sebelah kirinya. Kedua tangannya memegang dengan lembut lengan anak gadisnya ketika matanya pelan-pelan terbuka.

Dukun I Leheim yang turut bersila juga membuka mata.

“Bagaimana Minang? Apa kamu ketemu kakakmu?” Pak Bong Ke berharap jawaban yang melegakan.

Minang Ha mengangguk. Punggung tangannya mengusap-usap matanya.

“Kamu sudah jelaskan ke kakakmu kalau dia sudah meninggal?”

Bu Bong Ke sesenggukkan. Ia tidak ingin acara ini diadakan. La Kore sudah mati, buat apa dihubungi lagi. Biarkan dia tenang, ujarnya kala itu.

“Apa Ibu tidak dengar suara-suara kaki di rumah ini setiap malam? Setiap pagi kamar La Kore seperti berpenghuni. Kita rapikan tempat tidurnya dan esok berantakan lagi. Anak kita masih belum tenang, Bu. Dia tidak sadar kalau mati. Mungkin dia sedang tidur saat kecelakaan pesawat itu dan dia bangun dalam keadaan sudah mati.”

Minang Ha berdiri dan berjalan ke arah pintu. Matanya mengarah pada tangga di depan rumah. Ia duduk persis seperti saat menemui kakaknya di alam lain.

“Kasihan Minang, Pak.” Istrinya menatap anak gadisnya dari belakang.

“Tidak, Bu. Justru itu kesempatan La Kore bertemu adiknya terakhir kali. Ibu sendiri tahu, La Kore sangat menyayangi Minang.”

Perjalanan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar