Beri Aku Kematian


Hujan masih tercurah. Niko masih terbaring lemah di ranjang. Udara dingin sesekali membuat dadanya serasa tertimpa es. Untung beberapa waktu yang lalu, Niko meminta suster untuk membuka tirai di jendela, sehingga dia dapat melihat daun-daun bergoyang karena tetesan air.

Ini yang paling dibencinya. Tidur seharian. Ditemani lagu-lagu dari MP3 player musik. Sejak pagi tadi ia sudah memutar 200-an lagu.

Tok…tok..tok.

Niko menoleh ke arah pintu. Bunyi ketukannya agak lembut, tetapi cukup terdengar meskipun suara hujan begitu keras.

“Siapa yang berani menggangguku?” suara hati Niko bergema.

Di rumah ini cuma ada Bik Iyah yang bertugas di dapur dan Pak Ahmat, tukang kebunnya. Mama dan Papa keluar dari jam delapan pagi. Benar-benar hari Minggu yang membosankan.

Niko terperangah setelah sekian detik lalu berteriak, “Masuk.”

Dia berjalan mendekati ranjang. Rambutnya tergerai bebas, bergoyang ke kanan-kiri saat dia berjalan. Kedua tangannya di dada, memegang sebuket bunga.

“Rischa?” Niko heran. Orangtuanya cukup kolot. Tidak mungkin membiarkan gadis itu ini masuk. Sebentar… bukankah orangtuanya pergi. Masa Bik Iyah? Tidak mungkin. Bik Iyah pastilah melaporkan kedatangan Rischa terlebih dahulu sebelum gadis ini memasuki kamarnya. Ah, sudahlah. Buat apa dipikirin.

Gadis itu duduk di ranjang setelah meletakkan bunga di vas.

“Aku kangen kamu.”

Niko ingin sekali bangkit dan memeluk Rischa. Sudah dua minggu sejak dirinya mengalami kecelakaan, ia tidak bersekolah. Bukanlah teman-teman kelas XII yang membuatnya kangen. Tapi Rischa. Gadis berbandana renda. Bersepatu merah muda dengan mata coklat ini yang selalu membayangi pelupuk matanya.

Dipeganginya tangan Rischa. Hangat. Udara dingin diluar tak mempengaruhi suhu badannya. Parfumnya begitu menguar. Udara terasa hanya terisi molekul-molekul wangi tubuhnya. Kalau saja wajah Rischa begitu dekat. Ia ingin memastikan apakah bibirnya masih selembut dulu.

Rischa seperti tahu pikiran Niko. Ia menunduk. Wajahnya turun perlahan-lahan. Niko merasa jantungnya berdetak tak karuan saat ujung Rischa menyentuh ujung hidungnya. Mulutnya terbuka. Bau harum mint terserap hidung Niko.

“Kamu cantik sekali, Rischa.”

“Aku mencintaimu, Niko. Kita akan bersama selamanya.”

***

“Apakah tindakan kita benar, Bu?” tanya Pak Rudy. Pandangannya terlempar ke arah Bu Sofyan.

“Entahlah, Pak. Tetapi mereka saling mencintai. Anak-anak kita sudah berpacaran selama dua tahun.”

“Pernikahan ini memang cuma simbolis tetapi banyak teman-teman dari anak kita yang datang. Semoga mereka bisa berbahagia disana” Bu Rudy hampir menumpahkan air mata. “Sebagai orangtua, kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk Rischa dan Niko.”

Pak Sofyan terpekur. Ditatapnya dua pasang frame foto di depannya. Foto Rischa dan Niko. “Semoga Tuhan mengampuni Rischa, Ma.” Tidak seperti istrinya, mata Pak Sofyan kabur. Genangan air matanya jatuh mengingat Rischa beberapa hari yang lalu.

“Rischa ingin mati, Pa. Rischa ingin ikut Niko.”

Pak Sofyan berpikir bahwa saat itu Rischa hanya sekedar sedang berduka. Sampai dua hari setelahnya, Rischa tergeletak di ranjang dengan mulut berbusa.

Beri Aku Kematian Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar