Suatu Nama di Surga (Bagian 1)


Rahes malu-malu memandang Pinky. Gadis itu tak berkedip menelusuri wajah Rahes. Beberapa kali mata Rahes memergoki bola mata Pinky berputar dari kening, hidung terus berbelok ke arah pipi. Terakhir kali mata gadis itu berhenti tepat pada tengah-tengah bagian mata Rahes.

“Aku benar-benar tidak tahu. Kamu tuh lagi ngapain?”

Pinky menaikkan sudut bibirnya. Matanya kelihatan jenaka. Berkelip seperti pijar bintang sewaktu mati lampu. Begitu bercahaya. Sayangnya, Rahes hanya beberapa saat menikmati pijarannya. Sebentar kemudian, kelip itu tenggelam dalam kekelaman.

“Kamu tahu, sebentar lagi aku tidak akan pernah bisa melihatmu memakai mataku.” Telunjuk Pinky menunjuk pada mata. “Aku ingin mengingat-ngingat wajah kamu. Aku pengin bisa membayangkan wajah kamu saat kita ngomong-ngomong seperti ini.”

Rahes terhenyak. Dia bukannya tidak tahu bahwa karena kanker mata yang diderita Pinky dua tahun terakhir ini, dia harus menjalani operasi mata. Orangtua Pinky mengatakan padanya, akibat operasi ini, anak gadis bungsunya ini mungkin tak akan pernah bisa melihat lagi.

Rahes meraih kedua tangan Pinky. “Sekarang pejamkan matamu.”

Pinky menurut, ia memejamkan matanya perlahan-lahan. Kemudian dia merasakan tangan Rahes membimbingnya meraba seluruh wajahnya. Pinky merasakan wajah Rahes agak kasar, terutama pada bagian dagu. Pinky tidak pernah melihat cambang tumbuh. Rahes cowok rapi. Kelihatannya dia tidak pernah lupa bercukup setiap hari. Wangi pada wajahnya sepertinya campuran antara bau krim cukur dan parfum. Pipinya persegi. Tulang kuat menjadi pondasi wajah membentang dari dagu sampai telinga. Kedua tangan Pinky berpindah pada rambut. Rambut Rahes dibelah pada bagian tengah. Potongan rambutnya mengingatkan Pinky pada Tom Cruise saat ia berperan di film Top Gun. Film jadul ini ia temukan saat membantu ayahnya memasang software di laptop. Bukan trend potongan rambut saat ini yang lebih berkiblat ke Korea, tetapi Pinky tidak suka cowok berambut panjang. Ia lebih suka potongan pendek gaya militer.

Pinky terkejut saat Rahes membimbing kedua tangannya di depan bibir Rahes dan mengecupnya. Mata Pinky perlahan-lahan terbuka. Kedua bola matanya mengarah langsung pada bola mata Rahes. Entah kenapa, jantungnya berdetak sedemikian cepat. Detak jantung orang yang menaiki roller coaster saat benda itu bergerak dari atas ke bawah dalam kecepatan tinggi.

“Pinky.” Suara Rahes bergetar pelan. “Kamu mau jadi pacarku?”

Pinky terhenyak. Hubungannya dengan Rahes memang begitu dekat. Bahkan orangtuanya mengira mereka berpacaran. Kakak tertuanya, Victor, sering menggodanya. Victor sering mendatangi kamar Pinky. “Ping, ada Rahes, tuh.” Pinky langsung melesat bagai anak panah pasopati milik Arjuna. Beberapa saat kemudian, Victor beserta kedua orangtuanya tertawa, saat wajah pengantar susu menyodorkan dua botol susu kepada Pinky di depan pintu. Rona kemarahan langsung terlukis di pipinya. “Katanya cuma temen, kok nafsu banget.” Kali ini Ragil, kakak keduanya yang berujar. Dan tertawa kembali bergema dengan lebih keras.

Pinky menarik kedua tangannya dari genggaman Rahes dengan lembut. Matanya masih menatap tak percaya. Rahes kecewa ketika kepala Pinky menggeleng.

“Kenapa? Kamu sudah punya pacar? Atau menurutmu aku kurang baik?”

“Kamu cuma kasihan sama aku.”

“Kasihan? Nggak Ping. Aku ngomong gini bukan karena aku kasihan sama kamu. Aku benar-benar suka sama kamu.”

Pinky menjauhkan tubuhnya dari Rahes. “Aku sudah mengantuk, Hes. Bukannya mengusir kamu. Tapi sepertinya juga tidak enak kalau kamu terlalu malam ada di rumahku.”

Rahes tahu, ini cuma alasan Pinky untuk menyudahi pertemuan mereka. Rumah Pinky berada di kawasan elit. Masing-masing tetangga tampak acuh dengan tetangga lainnya. Besarnya rumah dan pekerjaan masing-masing pemilik rumah yang rata-rata adalah pengusaha yang menjadi penyebabnya.

Pinky masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Mamanya tampak bingung ketika bertanya, “Rahes sudah pulang Ping?”

“Sudah, Ma.” Tanpa menoleh ia menjejaki tangga berputar menuju kamarnya.

Bu Sisilia, mama Pinky mengeleng-geleng. Dari tempatnya berdiri, ia melihat ada bayangan seseorang sedang duduk dibalik korden di teras rumah. Sudah pasti orang itu adalah Rahes. Jadi mengapa Pinky mengatakan kalau Rahes sudah pulang? “Kamu bertengkar dengan Rahes?” Suara mama Pinky masih terdengar tetapi Pinky pura-pura terlanjur menutup pintu sehingga ada alasan untuk tidak menjawab.

Tubuhnya berdebam menghantam ranjang pegas. Sejenak tubuhnya terombang-ambing. Matanya berkaca-kaca. Isaknya tertahan bantal. Dengan lirih ia bergumam, “Aku juga suka sama kamu, Hes. Suka banget. Andai keadaan kita tidak seperti ini.”

Victor keluar, tepat saat Rahes hendak menutup pintu pagar.

“Kamu suka adikku?”

“Kamu sudah tahu jawabannya.”

“Sabar. Pinky memang orangnya seperti itu. Tapi percayalah, dia juga menyukaimu. Beri kesempatan dia buat berpikir.”

“Ma kasih, Tor. Aku pulang dulu.” Rahes melambaikan tangannya sebelum memasuki mobil.

***

Jantung Rahes hampir copot. Suara ketukan di jendela kamarnya membuatnya kalah main game. Wajah gadis muda ada di balik kaca jendela.

“Udahlah Marsya, kamu tidak usah terlalu sopan. Pakai ketuk segala.”

Gadis yang dipanggil Marsha tertawa. Kakinya yang jenjang menapaki lantai berkarpet biru sebelum sampai di belakang Rahes.

“Gimana perkembangannya? Berhasil?”

Rahes menggeleng lemah. Didorongnya kursi sampai menukik di tembok. Kakinya ia letakkan pada meja.

“Kurang berapa?”

“Konsentrasi saja pada rencanamu.” Marsha murung.

“Apa yang terjadi jika aku tidak bisa menyelesaikan?”

“Kamu tidak bisa kembali. Dan pada akhirnya kamu akan mati seperti mereka.” Marsha mendekati Rahes. Ia tahu, Rahes sudah menyesali perbuatannya, tetapi hukuman harus tetap diselesaikan. Kesalahan Rahes di masa lalu memang berat.

“Marsha?”

“Hemm.”

“Andai ini tidak berhasil. Tolong kamu jangan pernah kemari lagi.”

Mata Marsha basah. Rahes datang mendekatinya. Dibelainya rambut Marsha dengan lembut. Pelan-pelan dagu Marsha terangkat. Marsha menghambur mendapatkan Rahes.

“Terakhir kali kamu memelukmu, aku hampir-hampir tidak bisa bernafas. Sekarang kamu tambah dewasa. Aku bisa mati.”

Gadis itu tertawa. Rahes bisa merasakannya guncangan pada badannya. Marsha merenggangkan pelukannya. Ia berusaha menyusut air matanya, tetapi alirannya masih terlalu deras.

“Apa yang bisa aku bantu?”

Rahes menggeleng. Punggung tangannya sibuk menyeka air mata dari sudut mata Marsha.

“Peraturannya aku tidak boleh dibantu siapa saja. Jika kamu melanggarnya, nasibmu akan seperti aku.”

“Tapi aku tidak ingin kehilangan kamu, Kak.”

“Masih ada sisa waktu. Aku berusaha lolos.”

“Kalau kamu berada disini selamanya. Aku juga ikut kamu.” Marsha menjauhkan dirinya dari Rahes. “Aku bangga jadi adikmu.”

Rahes menangkup wajah Marsha. “Jangan keras kepala Marsha. Bagaimana nasib orangtua kita jika dua anaknya ada disini?”

“Kita bersaudara, kan? Artinya jika aku keras kepala, Kakak juga sama keras kepalanya. Kalau Kakak ingin aku tidak ada disini, Kakak juga harus begitu.”

Rahes kembali memeluk Marsha. “Andai aku tahu kita seperti ini, aku tidak akan melakukan kesalahan itu sehingga aku harus dihukum seperti ini.”

“Itu bukan kesalahanmu. Kelemahanmu hanya rasa kasihan. Kamu cuma ingin membantu.”

Rahes tersenyum. Hari ini ia sudah mendengar dua orang mengatakan kata ‘kasihan’. Dua orang yang diharapkannya memenuhi hidupnya. Satu orang mungkin pergi karena tidak menghendakinya. Satu orang lagi mungkin tak akan ada bersamanya meskipun dia menghendakinya.

“Aku bangga menjadi kakakmu.”

Air mata Marsha mengalir lagi ketika tubuhnya perlahan-lahan berpendar, lalu menghilang.

BERSAMBUNG....

Suatu Nama di Surga (Bagian 1) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar