Singapurna (Bagian 1)


“Kenapa kita harus mengendap-ngendap seperti ini?” Citak ikut jongkok ketika Catuk jongkok tiba-tiba.

“Lihat di depan itu?”

Citak melihat segerombolan orang sedang berjalan ke arah mereka. Tiga orang berpakaian ksatria memakai pakaian dari besi tempa. Kuda mereka bersurai halus, tampak berkibar-kibar ditiup angin.

Laki-laki paling kiri mempunyai pedang paling panjang. Tameng besinya ia kenakan di belakang tubuh. Matanya tampak kecil dibalik tutup kepala bajanya yang mempunyai pelindung mata.

“Pakaian mereka aneh. Seperti bukan orang dari daerah sini.” Citak tampak keheranan memandang tiga orang itu.

“Yang paling aneh justru yang di tengah.” Catuk menimpali.

“Ya, orang itu malah bertelanjang dada. Tetapi kalau melihat badannya yang kekar, agaknya orang itu merasa dirinya sangat kuat, sehingga tidak memakai pelindung seperti temannya yang lain.”

“Kamu ingat cerita dari Shaman di kerajaan ayah tentang penjaga bunga lima warna?”

“Aku tidak ingat. Kakak tahu sendiri, aku selalu tertidur jika Si Tua itu mulai mendongeng.”

Catuk menoleh. “Kapan kamu pernah dewasa?”

“Kakak-lah yang putera mahkota, bukan aku. Buat apa belajar banyak-banyak, jika Kakak yang menjadi raja nanti, aku tinggal menuruti apa kata Kakak.”

Catuk menjitak kepala Citak dengan gemas. Pandangannya kembali ke arah gerombolan yang mereka intai.

“Kita harus mengikuti mereka. Aku rasa mereka menuju tempat bunga lima warna,” bisik Catuk.

Catuk dan Citak mengikuti gerombolan dari belakang. Mereka agak lega ketika gerombolan itu berhenti di depan sebuah gua. Kalau saja Catuk dan Citak tidak melihat dari dekat, sudah pasti mereka tidak akan melihatnya. Dua buah pohon beringin besar menutupi keberadaan gua itu dari luar. Lagipula, Gua itu tidak tepat berada di tepi. Orang harus masuk melewati semak-semak beri hitam sebelum sampai di depan pintunya.

Kakak beradik itu menunggu sampai keadaan memungkinkan sebelum menguntit mereka masuk gua.

Citak terperangah. Pemandangan di dalam gua tidak bisa ditebak dari luar. Banyak percabangan jalan. Lumut-lumut membuat kaki Catuk dan Citak hampir terpeleset.

Mereka berhenti pada sebuah percabangan. Cabang di kanan lebih terang. “Mungkin ada cahaya dari sisi kanan,” pikir Catik.

Catuk mengiyakan dugaan adiknya. “Atau batu bersinar. Aku pernah masuk ke gua di dekat gunung istana. Disana ada batu yang bersinar di dalam gelap. Warnanya hijau terang.”

Mereka masuk ke sisi kanan. Di depan mereka terdapat lubang hampir berbentuk lingkaran. Sorotan-sorotan sinar matahari menerobos masuk dari bagian atas. Catuk melihat tangga dari batu di dinding paling depan menuju cuatan batu paling atas.

Mata mereka melihat sebuah kristal setinggi manusia berbentuk oval. Sinar dari dalam kristal tampak berkilau-kilauan. Beberapa sorotan sinarnya membiaskan tetesan air yang berjatuhan dari batu runcing di atas gua.

“Lihat itu. Dapatkah kamu melihat ada sesuatu di dalam kristal.” Catuk bertanya sambil meletakkan telapak kanannya diatas pelipis untuk melindungi matanya dari kilauan sinar kristal.

“Bunga.” Citak hampir menjerit karena kesenangan. “Itu bunga lima warna.”

Catuk dan Citak lupa siapa yang mereka ikuti. Mereka berlomba paling dulu sampai diatas batu. Catuk hampir saja terpeleset karena batu yang goyah. Dengan kaki terpelecok ia mengejar adiknya. Tangan adiknya tinggal beberapa ujung jari sampai pada permukaan kristal.

Catuk melihat seseorang berdiri di kegelapan pilar dekat kristal. Mulutnya bersiap-siap memperingatkan Citak. Belum sempat Catuk berteriak, matanya melihat sesuatu melayang ke arah Citak.

Catuk belum sempat merinding membayangkan apa yang terjadi. Suatu dentuman keras menggelegar. Tubuhnya serasa melayang keluar melalui lubang diatas gua. Catik berteriak kesakitan. Pandangannya seketika gelap.

***

Catuk bangun dengan mengigit bibir bawahnya. Tangan kirinya mati rasa. Setelah berhasil berdiri dengan susah payah, ia mencari cabang pohon yang membentuk huruf Y. Dimasukkan lengannya pada bagian yang diapit dahan. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum menghentakkan dirinya kebawah.

Klek. Terdengar teriakan Catuk. Setelah sakitnya mereda, ia mencoba menggerak-gerakkan tangan kiri sampai dapat merasakan pergelangannya sendiri. Sendinya yang lepas kembali pada tempatnya.

Catuk merasa senang. Di depannya terlihat bentuk-bentuk bayangan persegi. Dugaannya, itu adalah rumah-rumah penduduk. Tetapi ia heran ketika sudah sampai di depan jalan masuk dusun. Tak ada suara sedikitpun meskipun ia melihat beberapa rumah memasang obor di depan rumah.

“Ini pasti Dusun Pendung, karena bukit tempat aku terpental tadi adalah Bukit Pendung.”

Catuk memasuki salah satu halaman rumah pemasang obor. Diketuk-ketuknya pintu. Namun sampai lama tidak ada yang membuka pintu. Ia berpindah ke rumah lain. Si empunya juga tidak membuka pintu.

Ia kembali ke jalan. Ditelusuri sepanjang jalan kampung, siapa tahu ada orang yang sedang berada di luar rumah seperti dirinya. Tetapi sampai ujung kampung Catuk tidak menemukan sosok satupun.

Baru saja Catuk akan berbalik menuju jalan masuk kampung tempat pertama kali ia masuk, telinganya menangkap suara gemerisik di semak-semak. Nalurinya mengatakan ada sesuatu yang membahayakan dirinya.

Tangan kanannya memegang gagang pedang. Kepalanya menatap lurus ke arah semak meskipun bola matanya berputar menyapu sekelilingnya. Hidungnya mencium bau seperti babi hutan basah. 

Suara gemerisik bertambah keras. Catuk makin waspada. Baru saja ia menghunus pedangnya sampai separuh, seekor singa meloncat ke arahnya. Catuk bergulung ke samping. Pedangnya jatuh di tempat singa itu menerkam. Singa itu sendiri terlihat kecewa karena menerkam udara. Padangannya mengarah ke sasarannya.

Ia sempat berpikir untuk memutari pohon di tempat semak-semak itu berada, lantas kembali ke tempat pedangnya jatuh. Namun Catuk ingat, salah satu hulubalang ayahnya pernah tewas karena terkaman harimau gara-gara mencoba mengambil tombaknya. Kecepatan harimau dan singa berlari melebihi kecepatan manusia. Catuk tidak mungkin sempat mengambil pedangnya. Ia berlari secepat-cepatnya menuju jalan masuk kampung.

Ia tahu, jika dia terus berlari seperti ini, singa itu pasti dengan cepat memangsanya. Sambil berlari Catuk mencari pagar paling tinggi. Ia bermaksud menggunakan pagar tadi sebagai pemisah antara dia dan singa. 

Bersambung ke Bagian 2, Bagian 3


Sumber gambar: thestars-themoon.tumblr.com

Singapurna (Bagian 1) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar