Raja Badai (Bagian 3) Tamat


Kanud menggeleng. “Malam ini kita melihat korban-korban pertama dari masalah kita. Aku juga memikirkan Maro. Penduduk desa ini akan dihabisi jika aku tidak mau menjadi selir raja.”

“Kita sudah menikah. Adalah kewajibanku menjaga kehormatanmu.”

“Aku tahu itu. Tapi ini bukan masalah kehormatanku atau kehormatanmu, kenapa kita tidak berkorban saja demi nyawa orang-orang Maro.”

Kulud memperhatikan bulan. Sejak kecil ia suka melihat bentuknya yang bundar, warnanya yang putih, dan sinarnya yang lembut. Apakah esok dan selanjutnya ia masih akan menikmatinya?

“Apa yang aku putuskan bukan hanya demi diriku. Akan ada masa setiap orang bisa menjadi seperti kita sekarang ini. Jika rencanaku berhasil, semua pasangan seperti kita akan berbahagia. Mereka tidak perlu mengalami apa yang kita alami sekarang.”

Kanud mendekati suaminya. Pelukannya terasa hangat. Kanud ingin merasakan kehangatan ini sampai ia mati. Pelan-pelan ia dapat mengerti kegundahan Kulud. Ini memang bukan masalah mereka. Ini masalah bersama.

***

Raja Badai mengadakan pesta besar-besaran merayakan kemenangan atas Kerajaan Magdala. Seluruh kepala pasukan diundang. Segala macam masakan paling enak dihidangkan. Puluhan sapi disembelih. Ikan-ikan laut terbaik didatangkan. Para ahli masakan dari negara-negara jajahan Badarasta didatangkan.

Kulud dan Samin mengendap-ngendap di dapur istana. Setiap kali prajurit istana berpatroli di dekatnya, mereka berpura-pura mengambil makanan dalam wadah untuk di hidangkan pada orang-orang di pesta.

Ketika prajurit sudah berlalu, ia berjalan lagi memasuki bagian istana yang lebih dalam.

Saat melewati sebuah pilar besar, Kulud menghentikan dirinya. Bayangan pilar sungguh sempurna menyembunyikan badan mereka dari jangkauan pandangan patroli kerajaan.

“Tunggu sebentar. Kita harus berpencar. Cari informasi sebanyak-banyaknya.”

“Informasi apa yang harus kita cari?” Samin tak mengerti.

“Apa saja, terutama tentang kelemahan Raja Badai.”

“Apakah mungkin raja sekuat Raja Badai mempunyai kelemahan?”

“Di dunia hanya Eyang Widi yang tak mempunyai kelemahan. Ia pencipta. Dan ciptaannya sungguhlah sempurna. Kecuali jika ciptaan itu menyembah pada kejahatan seperti Raja Badai.”

“Baiklah.” Samin masih tidak mengerti, tetapi menyetujui usulnya.

Samin memulainya dari ruang pesta. Matanya terbelalak. Seumur hidup, baru kali ini mata kepalanya melihat makanan enak dalam satu meja dan dalam jumlah banyak. Ia hampir melupakan tugasnya dengan mencuri makanan-makanan di dekatnya dan memasukkan dalam kantongnya. Di tempat tersembunyi, ia memakai makanan tadi. Ketika ingat, Samin memukul kepalanya dan mulai menjalankan tugasnya lagi.

“Aku dengar raja punya istri jin.” Seseorang disebelah Samin mengobrol dengan teman wanitanya di dekat kebun istana.

“Itu cuma gosip. Bagaimana mungkin manusia kawin dengan jin. Apa raja bisa melihat jin itu?”

“Mana aku tahu. Tapi menurut Dayang kepala, raja memasukkan istri jinnya di kedua tangannya.”

“Istri jin-nya dua?”

Si Pria mengangguk. “Itulah sumber kekuatan Raja Badai. Istri jin-nya selalu membantunya.”

“Oh begitu. Wah, kalau begitu susah mengalahkan Baginda. Jin tidak bisa dilihat manusia, sementara jin bisa melihat kita. Bisa-bisa kita mati tanpa tahu kapan jin itu menyerang kita.”

“Hussh. Aku beritahu satu rahasia. Ini kelemahan jin itu.”

Samin mendekatkan diri supaya mendengar bisikan pria itu. Wajahnya bersinar ketika mengetahui kelemahan Raja Badai.

***

“Ingat. Yang kita lakukan hanya bertahan. Tujuan kita bukan menang, tetapi membuat Raja Badai sendirilah yang melawan kita.”

Orang-orang Dusun Maro takut juga meskipun hanya menghadapi hulubalang raja. Namun demikian, mereka membenarkan apa yang dikatakan Kulud. Mereka tak pernah hidup damai jika terus menerus merelakan diri dalam cengkeraman Raja Badai.

Pasukan berkuda Hulubalang tiba di depan gerbang dusun. Dengan tertawa, Hulubalang mengolok-olok mereka.

“Apa yang hendak kalian lakukan penduduk dusun? Kalian mau melawan prajurit-prajurit terlatih seperti kami.”

Seluruh prajurit tertawa. “Ayo anak-anak. Kita bersenang-senang.”

Lima puluh prajurit panah mengambil tempat di depan pasukan.

“Tembak.” Hulubalang mengacungkan pedang.

Prajurit memanah menuju langit. Puluhan panah mengangkasa dan beberapa saat kemudian menukik menuju Dusun Maro.

Hulubalang heran. Sudah lima kali memanah tapi tidak didengarnya teriakan kematian atau balasan serang dari penduduk. Hulubalang memerintahkan untuk merusak pintu gerbang dan barikade di depan pintu.

Lima prajurit memasuki dusun. Mereka heran mendapati dusun sepi. Panah-panah mereka menancap disana sini. Pohon, atap rumah dan dinding rumah. Tidak seorang pun terlihat oleh mereka. Dusun Maro menjadi dusun hantu.

Ketika mereka sampai di tengah-tengah dusun. Salah seorang prajurit mengadu. Darah keluar dari pelipisnya. Teman-temannya langsung memasang tameng, mereka membentuk formasi lingkaran dengan tameng sebagai dinding luar.

Menunggu dan menunggu. Tak ada serangan lagi. Salah satu dari mereka melirik temannya. Dan temannya mengedipkan mata untuk mundur dari tempat itu sambil tetap membentuk formasi lingkaran.

Baru saja mereka bergerak mundur. Ratusan batu mengarah pada mereka dari berbagai jurusan. Suara tang ting tung karena batu-batu itu menghantam tameng mereka sampai terdengar Hulubalang.

Hulubalang mencegah prajurit-prajurit lainnya menyusul dengan mengangkat telapak tangannya.

“Tunggu. Biarkan prajurit yang masuk tadi keluar dulu. Aku ingin tahu apa yang terjadi pada mereka.”

Kelima prajurit itu terus mundur sambil menahan serbuan batu dari segala arah. Pada jarak lima langkah dari pintu gerbang desa, telinga mereka mendengar suara berderit dan suara orang sedang menebang sesuatu. Sesuatu terdengar seperti patahan.

Hulubalang memerintahkan semua pasukannya maju memasuki gerbang. Matanya membesar melihat kelima prajurit suruhannya tadi tertimpa batu besar yang diikat tali. Sepertinya batu tadi diayunkan dari arah sebaliknya dan menghantam anak buahnya.

Hulubalang murka. Pelipisnya mengeras. “Cari mereka. Bunuh semua kecuali Kanud.”

Prajurit hendak menyebar ketika ratusan batu kecil melayang dari segala arah. Satu-dua prajurit tewas dengan kepala pecah. Teman-teman yang lain panik karena arah serangan dari mana-mana sehingga sulit untuk memusatkan serangan. Hulubalang memerintahkan pasukannya mundur. Dari seratus orang, hanya sepuluh yang masih selamat dengan luka-luka di sekujur badannya.

Raja Badai murka melihat Hulubalang dan prajuritnya terluka. Tanpa bertanya, Raja menghunus pedang dan menusuk Hulubalang.

Pada malam hari, Raja Badai mengirimkan mata-mata ke Dusun Maro. Hasil dari mata-mata menyebutkan, bahwa penduduk Dusun Maro bersenjatakan ketapel berpeluru batu.

“Bagaimana mereka bisa selamat dari pasukan panah.” Raja Badai bertanya pada mata-matanya.

“Mereka menggali terowongan bawah tanah. Ketika pasukan panah menyerang, mereka bersembunyi di sana.”

Raja Badai tersenyum kecut. “Pintar mereka. Hanya bersenjata batu bisa mengalahkan prajuritku.”

Raja memerintahkan panglima untuk menyiapkan satu batalion pasukan pada keesokan hari. Disiapkannya pasukan panah dengan api. Tanpa basa basi, Raja membakar desa dengan panah api. Setelah dirasakan rumah-rumah terbakar hebat. Ia memerintahkan sebagian pasukannya menyerbu desa.

Panglima dan Raja tidak heran mendapatkan desa dalam keadaan sepi, mereka sudah menduganya. Panglima memerintah beberapa prajuritnya untuk memasuki terowongan bawah tanah di dekat balai pertemuan dusun. Beberapa penduduk desa tampak ketakutan melihat pasukan memasuki terowongan.

Orang-orang Dusun Maro berlarian menuju ujung terowongan lain. Prajurit-prajurit Badai mengejarnya. Namun malang, atap terowongan runtuh. Beberapa prajurit terkubur dengan tanah dan batu.

Prajurit yang selamat keluar dari terowongan sambil membawa salah satu penduduk yang berhasil mereka tangkap.

Raja Badai dengan gusar bertanya, “Dimana arah terowongan itu?”

Penduduk dusun itu ketakutan tetapi Raja Badai malah tersenyum. “Aku akan beri kamu hadiah kalau kamu bisa mengatakan kemana arah terowongan itu.”

“Talang Rindu.”

“Mereka menggali terowongan sampai kesana?” Raja Badai heran. Ia tidak mengira warga Dusun Maro yang terlihat lugu tetapi mempunyai taktik berperang.

“Baiklah. Terima kasih.” Raja Badai memiting kepala penduduk itu dan menggoroknya.

“Kalian tunggu disini. Aku akan pergi ke Dusun Talang Rindu.” Titahnya. Raja Badai memejamkan mata. Kata-kata aneh keluar dari mulutnya. Pasukan mendengarnya seperti suara orang bergumam. Sayup-sayup mereka mendengar suara angin. Semula suaranya hanya seperti suara angin semilir di tengah sawah. Semakin lama suara itu lebih mirip suara angin badai dan membentuk sebuah pusaran. Raja Badai naik pada pusaran angin dan naik ke langit.

***

Kanud dan Kulud menunggu di hutan bambu kuning, dekat dengan Dusun Talang Rindu. Sisa-sisa penduduk Dusun Maro bersatu penduduk Talang Rindu bersiap-siap di tempatnya. Mereka ketakutan tetapi saling menguatkan diri satu sama lain.

Gemuruh angin terdengar dari jauh. Semua orang yang pernah berhadapan dengan Raja Badai pasti mengetahui bahwa suara itu adalah kendaraan yang dipakai oleh penguasa Kerajaan Badarasta.

Raja Badai tak menyia-nyiakan waktu meski dalam hitungan detik. Tangannya mengacung ke udara. Pusaran-pusaran angin disertai hujan dan petir seperti berkumpul di kedua tangannya.

Begitu ia mengarahkan kedua lengannya ke arah Dusun Talang Rindu, pusaran angin dari tangannya memanjang dan menyerbu dusun. Hujan dan petir yang berkilat-kilat mengacau balaukan seluruh dusun. Dalam sekejab, Dusun Talang Rindu rata dengan tanah.

Beruntung, Dusun Talang Rindu mempunyai kepala dusun yang bijaksana. Sehari sebelumnya, seluruh anak-anak dan wanita diungsikan di perbukitan terdekat. Di kaki bukit, tumbuh pohon-pohon besar dan lebat. Dari atas bukit, orang tidak akan bisa melihat apa yang ada di tanah hutan.

Raja Badai tertawa dengan keras. Ia turun beberapa depa dari gerombolan penduduk yang bersiap-siap di hutan bambu kuning.

“Kalian ingin melawanku?” Raja Badai tertawa sekali lagi. “Sebaiknya kalian berdoa terlebih dahulu sebelum mati, siapa tahu dewa memberi kalian kekuatan sehingga dapat membunuhku.”

Kakinya berjalan lebih dekat. Dilihatnya Kanud diantara mereka.

“Sebutkan kekuranganku Kanud sehingga engkau lebih memilih suamimu yang lemah daripada aku.” Suaranya meninggi.

“Seluruh harta dunia bisa kamu miliki. Sebutkan saja, aku akan segera membawakannya dibawah kakimu. Sekarang lihat nasib kalian. Sebentar lagi cacing-cacing akan memakan tubuh kalian. Menyesallah ibu yang melahirkan kalian, kalian lahir hanya untuk mati percuma.”

Kulud maju. Dadanya terguncang karena detak jantungnya terlalu cepat dialiri darah. “Kalau begitu Baginda tidak berkeberatan untuk bergulat satu lawan satu dengan hamba.”

Raja Badai tertawa lebih keras. “Aku menghargai keberanianmu anak muda. Biasanya aku tidak mengijinkan seseorang menyentuh kulitku. Mereka terlalu hina. Aku malu harus mengalahkan kecoak. Tetapi sebagai pelajaran untuk pengagummu yang ada di belakangmu itu, baiklah, aku terima.”

Raja mulai melepas pakaian perangnya. Kulud pun demikian. Mereka berdua hanya memakai kain pembebat sebagai celana.

Dua orang berjalan saling mendekat. Raja Badai berdiri di sisi timur, sedangkan Kulud di sisi barat.

Dengan hentakan kaki keduanya Raja Badai mulai menyerbu. Tetapi mata Raja Badai tertutupi sinar matahari dari barat. Seseorang mendadak bangkit dari tanah. Ia menggenggam bambu kuning.

Orang itu telah menyamarkan diri di tanah. Penduduk desa menutupinya dengan daun-daun kering dan rerumputan.

Samin memberitahu penduduk desa malam sebelumnya bahwa kelemahan Raja Badai adalah bambu kuning. Tusukan pada jantung akan membuat kedua istri jin-nya keluar dari tubuhnya . Dengan secepat kilat ia menusuk jantung Raja Badai.

Raja Badai melolong. Matanya melihat pada dadanya dan orang yang menusuknya. Kedua bibirnya berjauhan. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi suara yang di dengar orang-orang cuma erangan penuh kemarahan sebelum akhirnya roboh dengan mata terbuka menatap langit.

TAMAT
Sebelumnya: Bagian 1, Bagian 2

Sumber gambar: pinterest.com

Raja Badai (Bagian 3) Tamat Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar