Nina Bobo


“Pa.” Suara gadis itu serak. Matanya menatap pada dinding di sebelah kiri, kemudian memutar pada dinding sebelah kanan. Dinding itu tampak seperti monster pada saat gelap seperti saat ini. Wajahnya tampak takut. Beberapa kali ia harus menghindar ke kiri manakala tembok kanan seperti di pukul seseorang, begitu juga pada tembok kiri.

Ia terus berjalan mencari seseorang yang dia panggil “Pa”. Boneka yang dipegang pada tangan kanan terserat pada bagian kaki. Mata bonekanya demikian sederhana, hanya berupa benang disulam berbentuk X. Warna coklat boneka itu sudah tak kelihatan. Beberapa noda tampak disana-sini. Satu dua benang wol pada bagian perut tampat mencuat.

Tiba-tiba ia berhenti. Jalan pada bagian depan tampak lebih pekat gulita. Kaki kiri mungilnya terasa ngilu tepat pada bagian telapak sepatu yang berlubang terkena kerikil. Takut-takut ia jongkok sambil mengawasi jalan di depan. Dia takut jika ia terus berjalan sesuatu akan menariknya ke dalam kekelaman. Ia mendekap boneka beruang untuk mengurangi dingin beku malam itu. Air matanya mengalir semakin deras, ketika dirasanya kerinduan pada seseorang yang dipanggilnya “Pa” terasa menyiksa.

“Pa, Nina lapar.”

***

Suparjo menawarkan koran di persimpangan jalan. Sudah hampir tengah hari, korannya hanya laku lima. Ia tak patah arang, setiap lampu merah menyala, ia berjalan dan menunjukkan koran pada kaca-kaca mobil. Meskipun ia sudah tidak mempunyai tenaga karena lapar, seulas senyum dibuatnya. Perutnya terasa semakin melilit ketika tak seorang pun tertarik pada barang dagangannya.

Ia duduk dekat warung. Atapnya agak menonjol ke samping, memberinya perlindungan dari sinar matahari. Sesekali matanya menatap gelas-gelas es teh milik pelanggan. Ia ingin membulatkan kata untuk diucapkan pada pemilik warung. “Boleh minta es teh.” Tapi ia tahu diri, ia tidak mungkin membayarnya. Lebih baik uang yang di sakunya untuk membeli nasi daripada minum, begitu pikirnya setiap kali. Ia masih dapat meminum sisa-sisa es batu yang dibuang atau pergi ke kolam air mancur di depan kantor walikota.

“Lihat ini.” Salah satu pelanggan warung menunjukkan berita di koran. “Ini pasti kerjaan penunggu disana.”

Temannya membaca berita yang disodorkan.

“Setiap tanggal sebelas September, selalu ada yang mati disitu.”

“Kenapa tanggal sebelas?”

Temannya mengangkat bahu. “Tapi katanya ada anak yang mati pas tanggal segitu. Hari itu ulang tahunnya dia. Ayahnya meninggalkannya disitu karena pacar barunya tidak ingin anak itu ikut di rumah mereka.”

Temannya menarik nafas. “Kok bisa ada orang seperti itu?”

“Benar juga kalau ada yang bilang, yang bikin rusak dunia itu harta, tahta, dan wanita.”

Temannya tidak menyahut, matanya melirik iklan lowongan kerja di halaman sebelah.

Ibu penjaga warung melotot pada mereka. “Wanita enggak termasuk. Tapi nafsu. Kalau laki-laki enggak ada maunya, memangnya wanita bisa maksa?”

Keduanya cekikan tidak menjawab.

***

Suparjo merapatkan tangan di depan dada. Meski tak mengurangi sengatan hawa, ia berhasil menciptakan kehangatan lewat tangannya. Badannya hanya berbalut baju hem tua. Beberapa bagiannya ditambal seadanya. Sisanya tetap terlihat terkoyak.

Kepalanya berputar sesaat sebelum melihat boneka di genggamannya. Pakaian boneka itu sama kumalnya dengan pakaiannya sendiri. Ia menemukannya pada tong sampah di depan rumah orang kaya.

“Sayang,” pikirnya. “Boneka ini masih bagus.” Keterampilan menjahit seadanya tidak mengurangi semangatnya. Dalam beberapa menit, pakaian boneka itu sudah terjahit. Matanya yang hilang satu digantinya dengan kelereng dengan bagian hitam di dalamnya. Tangannya mematut-matutkan boneka itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

Mata boneka itu memandangnya. Kecil dan rapuh. Suparjo menurunkan. Ingatan tuanya melayang ke masa beberapa tahun sebelumnya. Martha kecil berlari menghampirinya. Suparjo memang menjanjikan boneka di hari ulang tahunnya. Suparjo membuka lengannya lebar-lebar. Mata gadis kecil itu tertumbuk pada kotak kardus panjang di tangan Suparjo.

Martha merebut kardus itu dan mengeluarkan isinya. Suparjo membimbingnya memasuki rumah. Matanya hanya tertuju pada kilauan mata Martha dan anak gadisnya itu berkonsentrasi mengamati boneka yang diinginkan dua bulan lalu. Mata mereka tidak mengetahui sebuah mobil berjalan cepat kearah mereka. Dalam beberapa detik Suparjo melihat kepala Martha berlumuran darah. Ia tidak menyadari tulang rusuknya patah.

Suparjo bangun dalam kesakitan. Bau alkohol terlalu menyengat. Mata istrinya sembab di pelukan ibu mertuanya. Polisi-polisi yang datang kemudian memberitahunya, ada kontraktor saingannya yang merasa sakit hati karena kalah tender. Ia memang bermaksud membunuh Suparjo dan anaknya.

Mata Suparjo berkunang-kunang. Bahkan setelah kembali ke rumah, istrinya tidak ada disana. Ia mencari ke rumah mertuanya. Mereka mengatakan jika tidak tahu dimana keberadaan istrinya. Pada malam-malam selanjutnya tidurnya tidak tenang. Suara-suara angin seperti bisikan-bisikan dari kejauhan. Suara anak kecil dengan kakinya yang menghentak lantai kayu berlarian menuruni tangga di depan kamarnya.

Suparjo keluar. “Martha?”

Mata Suparjo mengedari seluruh ruangan. Keadaannya masih sama ketika beberapa jam tadi ia pergi tidur. Lampu-lampu mati. Hanya lampu teras yang masih menyala.

Suparjo pelan-pelan merosot ke bawah. Air matanya membuat pandangannya kabur. Dadanya serasa pecah karena sesak. Ia memandang langit-langit rumah yang terlalu tinggi. Ia pernah menginginkan semua ini saat Martha lahir.

“Aku berjanji, kamu dan anak kita tidak akan makan batu.”

Suparjo berusaha keras mengumpulkan rupiah demi rupiah dari desain rumah, sampai tabungannya cukup untuk membuat proyek-proyek rumah sendiri. Tapi sekarang semua itu tampak hampa. Dua orang yang menjadi motivasinya mencari uang sudah tiada.

Pagi-pagi Suparjo membawa tas di punggungnya. Ia berhenti sesaat dan menoleh ke belakang. Rumah itu masih tampak nyaman. Warnanya yang pink, sesuai warna kesukaan Martha, tampak lucu dan unik di komplek ini. Martha sering bercerita bahwa teman-temannya iri melihat rumahnya. Mereka ingin rumah mereka juga ada gambar hello kitty. Mereka ingin papa mereka juga mempunyai VW kodok dengan miniature hello kitty di depan.

Suparjo tidak tahan membendung air matanya lagi. Kali ini air mata itu menyadarkannya bahwa lamunannya tidak sesuai kenyataan saat ini. Rumah hello kittynya sepi. Cat pink-nya tampak lebih berwarna hitam daripada merah muda.

Suparjo membenahi tas punggungnya. Kakinya menapak sesuka hatinya. Setiap kali ia berdoa agar Tuhan tidak terlalu lama mencabut nyawanya. Ia ingin rasa sesak di dada ini hilang secepatnya. Ia ingin menggendong Martha lagi disana. Di langit berawan.

“Apa kamu saat ini bermain di depan rumah Tuhan, Nak?”

Dan sekarang, dengan dingin yang sama, ia berdiri disini. Di sebuah jalan sepi menuju komplek perumahan. Komplek itu dibangun agak jauh dari jalan raya. Pintu gerbangnya sekitar 300 meter dari perumahan terdekat. Suparjo bisa menebak alasannya. Pihak developer pasti tidak bisa menebang pohon beringin di lima puluh meter dari gerbang. Suparjo pernah mengalaminya ketika masih aktif menjadi pengembang perumahan.

Tangan Suparjo menaikkan boneka tadi setinggi dadanya. Matanya melihat-lihat sekitarnya.

“Kamu mau boneka ini? Anakku dulu juga suka boneka. Aku membuatkan kamar dengan seratus boneka di kamarnya.” Suparjo tersenyum perih.

“Aku mau menjadi ayahmu. Tapi tolong jangan ganggu orang-orang disini, ya?”

Suparjo merekatkan lengannya di dada. Rasa dingin angin yang melintas semakin lama semakin menusuk-nusuk. Ia menunggu. Entah menunggu apa. Ia sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya. Orang mungkin akan mengiranya gila jika mengetahui Suparjo berbicara di tempat remang seperti ini.

Suparjo menyerah. Badan tuanya tak sanggup menahan dingin tempat ini terlalu lama. Tepat ketika badannya akan berbalik, ia melihat sosok seperti bayangan berdiri dekat semak-semak. Suparjo menyadari sosok itu tidak diam. Semakin lama bayangan itu tampak semakin dekat. Dari tingginya, Suparjo menebak bahwa sosok itu seukuran anak-anak.

Pria itu menahan nafas. Sosok di depannya bukan berupa bayangan lagi. Wajahnya menengadah menatapnya. Matanya tidak tampak jelas. Suparjo hanya berpikiran bahwa mata gadis itu seperti mata katarak miliknya. Bedanya, mata sosok itu putih seluruhnya. Bandananya tampak agak rapuh. Beberapa benangnya terburai ke arah luar.

Suparjo berusaha tidak terperanjat mendapati ada sebuah luka menganga di kaki sosok itu ketika mengulurkan bonekanya. “Kamu suka?”

Tangan sosok itu terulur mengambil boneka di tangan pria itu. Suparjo menunduk dan menggendongnya. Sosok itu membelai-belai bonekanya.

Suparjo berjalan sambil menepuk-nepuk kepalanya. Kerut-kerut di matanya menegang ketika ia membuka mata. Tangan sosok itu memegang pipinya.

“Kamu mengantuk? Kamu ingin Bapak menyanyikan lagu?”

Kepalanya mengangguk sebelum rebah di dada Suparjo.

Nina bobok….oh o Nina bobok

Kalau tidak bobok digigit nyamuk…

Boboklah sayang bobok sampai pagi

Papa disini terus menanti senyummu kembali….. 



sumber gambar: pinterest.com

Nina Bobo Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar