Biarkan Aku Mencintaimu (Bagian 8) TAMAT


Deni berkali-kali melihat ke arah jendela. Detik demi detik meninggalkan goresan-goresan perih di sekujur jantungnya. Syanne berjalan ke ruangan kepala sekolah. Seperti terhipnotis, ia berhenti dan menatap Deni dari kejauhan. Wajah Syanne seakan-akan hendak mengatakan,”Aku siap. Bagaimana dengan kamu?”

Pintu kepala sekolah tertutup. Beribu-ribu batu menghujaninya. Jantungnya berdetak lebih keras. Sekali kamu mengaku, kamu tidak bisa mundur. Deni keluar dari kelas. Kepalanya berputar mengarah pada kelas Niken. “Maafkan aku Niken. Kamu boleh menyumpahi aku apa saja. Bajingan. Penjahat. Pengkhianat. Pembohong. Tapi aku harap suatu ketika kamu mengerti.”

“Syanne, Ibu bertanya sekali lagi, siapa ayah bayi itu? Jangan takut mengatakannya pada Ibu. Kalau anak itu tidak mau bertanggung jawab, Ibu yang akan dampingi kamu ke orangtuanya.”

Syanne menunduk. Kedua tangannya bertaut erat. Pandangannya kabur; dicobanya menahan air mata agar tidak jatuh.

“Cowok itu anak sekolah ini?”

Pintu ruang terbuka. “Saya ayahnya.”

Butiran air mata Syanne jatuh.

***

Lengan Deni serasa patah. Bahkan sebelum jam istirahat berbunyi, Niken sudah bersiap-siap di samping bangku Deni. Begitu bel berbunyi, tangan Niken mencengkeram lengan Deni. “Ikut aku. Banyak yang mau aku omongin sama kamu.”

Natasha berjalan berdampingan dengan Monica di belakang Niken. Keduanya bertabrakan dengan punggun Niken saat gadis itu berhenti tiba-tiba.

“Apa benar kamu yang menghamili Syanne?”

“Kata menghamili terdengar kasar, Ken.”

Niken tertawa ngakak. Natasha dan Monica tersenyum sinis. “Lihat ini saudara-saudara. Tuan Bersih ini membicarakan masalah kasar-tidak-kasar untuk masalah sampah ini. Memangnya dimana mulutmu ketika kamu senang-senang sama Syanne?”

Plak. Pipi Deni memerah.

Deni sudah terbiasa terhadap gaya bicara Niken. Bahkan tamparan Niken sudah diduganya. Yang menyakitkan bagi Deni adalah kenyataan bahwa Niken tidak percaya.

“Percayalah, Ken. Aku bukan seperti apa yang kamu pikirkan.”

Plak. Sekarang tangan Natasha menamparnya. Niken mendelik, kepalanya berputar ke arah Natasha. “Ngapain kamu ikut-ikutan nampar?”

Natasha kaget. “Maaf. Aku juga emosi.”

“Yang jadi pacarnya itu aku bukan kamu. Aku yang berhak.”

Natasha mengkerut. Monica berpura-pura melihat ke tempat lain.

“Aku mencintaimu, Ken. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.”

Niken hendak menampar lagi. Deni mendekatinya. Jarak mereka tidak memungkinkan Niken melayangkan tangannya. Deni meletakkan kedua tangannya pada pinggang Niken.

“Aku bisa mengerti kemarahanmu. Memang aneh mengatakan aku masih mencintaimu pada saat aku sekarang bersama Syanne. Tapi bisakah kamu memaafkan aku dan percaya saja kalau aku mencintai kamu?”

Niken ambruk. Deni cepat-cepat menyanggah badan Niken sebelum menyentuh tanah. Deni baru berhenti menarik Niken ke arahnya setelah kepala mereka berdekatan.

“Kamu jahat. Kamu bilang kamu suka aku, tetapi kenapa kamu sekarang sama Syanne?”

Deni sekilas ragu untuk melanjutkan rencananya. Air mata Niken membebaninya. Ia sendiri merasakan apa yang dilakukannya memang kejam. “Tetapi Syanne lebih tidak punya pilihan,” sanggahnya dalam hati. Deni mengeratkan pelukan, kuatir saat ini adalah saat terakhir menemani Niken.

***

Pernikahan Deni dan Syanne hanya dihadiri oleh mama Syanne dan saksi-saksi. Karlista menawarkan sebuah kamar di hotel berbintang lima seusai pernikahan, tetapi mereka menolaknya. Sejak awal Deni dan Syanne sepakat untuk tidak membebankan tanggungan mereka berdua pada siapapun meskipun Deni tahu Karlista merasa bersalah terhadap anaknya. Semua bantuan ini-itu dirasakan Deni sebagai kompensasi rasa bersalahnya sendiri. Jam sembilan malam lebih sedikit, Deni kembali masuk ke dalam ruko setelah mengantar mama Syanne pulang. Ia akan beranjak naik ke lantai dua, tetapi tangan Syanne menahannya.

“Mau kemana?”

“Tidur. Kamu pasti capek, kan?” tangannya menunjuk ke atas.

“Kamu lupa kalau sekarang kamu suamiku?”

Wajah Deni memerah, “Sori. Lupa.”

Syanne ke kamar mandi untuk gosok gigi sementara Deni duduk di ranjang menunggunya. Punggungnya bersinggungan pada dinding. Matanya terpejam, membayangkan hari-harinya berjalan terlalu cepat akhir-akhir ini. Beberapa minggu lalu ia sendiri, sekarang ia sudah menikah. Beberapa hari yang lalu ia masih menjadi pacar Niken, tetapi sekarang suami Syanne. Bahkan sebentar lagi hadir seorang anak. Aku menjadi bapak. Deni sedikit tersenyum. Merasal lucu. Bagaimana aku nanti mengasuhnya? Yang pasti tidak seperti ayahnya. Dia harus tumbuh menjadi anak paling bahagia. Bukan ayah pemabuk seperti ayahnya atau ayah ternista seperti ayah mamanya. Kamu harus jadi anak pandai. Terserah mau jadi artis seperti mamamu atau ahli mesin sepertiku. Deni tersenyum sendiri.

“Kok senyum-senyum sendiri?”

Deni membuka matanya cepat-cepat. Setelah memperbaiki posisi duduknya ia menoleh.

“Hai.”

Syanne melihat keatas, tidak bisa menyembunyikan tawanya karena kelucuan Deni.

“Kenapa tertawa?”

“Kamu tuh lucu banget. Kenapa tiba-tiba jadi aneh?”

Muka Deni sedikit bertambur warna merah. “Sorry. Baru pertama kali berdua kayak gini sama cewek.”

“Bukannya berkali-kali?”

“Tetapi kan hanya buat ngucapin selamat tidur.”

“Cie..cie..so sweet.” Syanne usil melihat Deni terlihat lebih salah tingkah.

Agak lama bagi Syanne dan Deni untuk berdiam diri. Masing-masing dipenuhi oleh pikiran-pikiran baru. Pikiran-pikiran yang tiba-tiba menguasainya. Mereka sadar, mereka bukan remaja lagi meskipun masih usia SMA. Perubahan mendadak ini membuat Syanne dan Deni harus berpikir agak lama sebelum melakukan sikap-sikap dewasa.

Deni merasakan jarak mereka memang dekat. Hanya sejauh telapak tangan, Tetapi jarak ini masih membuatnya merasa jauh dari Syanne. Ia menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Syanne dengan menggigit bibir bawahnya menggeser tubuhnya.

“Kamu bahagia?” Syanne berbisik.

“Menikah dengan kamu? My first love? Tentu.”

“Kamu mikirin apa tadi waktu aku di kamar mandi? Niken?” Syanne langsung menyesal menanyakan Niken pada Deni. Mereka sudah pernah membicarakan masalah ini. Seharusnya sekarang sudah selesai. Tetapi Syanne ingin yakin Deni cuma miliknya. Mereka sekarang menikah. Meskipun terlihat kejam, Syanne ingin bayangan Niken hilang dari benak Deni. Kala mereka berdua seperti ini, Syanne ingin Deni hanya memikirkannya.

Deni sepertinya tahu apa yang dirasakan Syanne. Bukannya menjawab, ia melingkarkan lengannya sepanjang punggung Syanne dan menariknya ke arahnya. Bau mint pasta gigi Syanne dan rambutnya yang menguar mawar, membuat hidung Deni betah bertengger di ubun-ubun kepalanya.

“Kamu cemburu?”

“Enggak.”

“Beneran?”

“Eng—gak.” Syanne merasakan aliran hangat di belakang telinganya.

“Kok enggak tanya sekalian apa aku pernah cium Niken?” Deni gantian usil.

Seketika Syanne mendorong tubuh Deni menjauh. Tubuhnya terjengkang ke belakang. Syanne memutar badan dan berbaring berlawanan dengan Deni.

“Nah kan. Cemburu. Katanya tidak.”

“Bodoh.” Syanne memejamkan mata.

Percuma Deni mengguncang-guncang Syanne. Ia bergeming. Deni menyerah, kemudian jatuh tertidur.

Tengah malam Deni bangun dengan kaget. Ia merasa membuka mata tetapi sekelilingnya gelap.

“Den, bangun.”

Deni menoleh. Syanne kelihatan ketakutan.

“Ada apa?”

“Lampu mati.”

“Terus kalau mati kenapa?”

“Nyalain lilin kek, lampu darurat atau apa gitu.”

“Kamu mau baca?”

“Enggak.”

“Mau tidur?”

Syanne mengangguk.

“Terus kenapa nyalain lilin? Enggak ada bedanya terang atau enggak kalau lagi tidur.”

“Aku takut.”

Deni memutar badannya menghadap ke Syanne. Tangannya memegang genggaman erat tangan Syanne sendiri.

“Ada aku disini masa masih takut.”

Syanne tersenyum kecut. Rasanya malu tidur berhadapan dengan laki-laki di ranjang yang sama. Tetapi ia tidak punya pilihan.

Deni memandang Syanne; membiarkannya merasa nyaman lebih dahulu. Syanne sendiri juga merasa aneh. Pandangan mata Deni seperti bermagnet. Membuatnya betah berlama-lama melingkar-lingkarkan pandangannya menyusuri sepanjang garis hidungnya.

“Aku tahu kamu cemburu sama Niken.” Deni melanjutkan pembicaraan sebelum mereka tidur. ”Kamu tahu bagaimana caranya mengetahui apakah aku jujur mencintai kamu?”

Syanne menggeleng. Pandangannya tambah kabur ketika merasakan Deni semakin memendekkan jarak kepala mereka. Pikirannya tidak bisa menebak, kenapa bibirnya terasa panas, padahal beberapa saat lalu sekujur tubuhnya dingin karena AC. Ia memang tidak perlu memikirkan segalanya saat ini. Apapun itu, ia percaya Deni menjaganya. Pria ini sudah menahan malu mengakui bahwa ia adalah ayah dari anak di dalam perutnya. Ia bisa saja pergi meninggalkannya karena ia tidak perlu bertanggung jawab terhadapnya. Tetapi Deni tidak melakukan itu semua.

Bulu-bulu halus pada tangannya meremang. Ia ingin membuka mata, melihat apa yang dilakukan Deni. Tetapi ia takut ia cuma bermimpi dan akan berakhir apabila matanya terbuka. Syanne tidak ingin tahu bagaimana tiba-tiba tubuhnya terasa dingin sejenak. Kehalusan babydoll-nya hilang. Tetapi tidak lama. Sesuatu terasa berat diatasnya. Menghimpitnya. Membatasi ruang geraknya. Sesuatu yang lain menyapu sekujur tubuhnya. Berputar-putar dan berhenti di bawah hidungnya.

“Syanne.”

Gadis itu membuka mata. Setetes keringat tampak pada kening Deni. Ia ingin menghapusnya tetapi Syanne merasa bahwa tetesan keringatnya sendiri lebih banyak.

“Aku minta satu hal. Mulai hari ini cuma ada kita. Aku tidak ingin tahu nama cowok-cowokmu yang dulu, dan aku pengin kamu juga tidak perlu bertanya tentang masalaluku dengan mantanku.”

Gerakan wajah Syanne tersamar. Sangat sulit memastikan ia menjawab ya atau tidak. Tetapi mata Syanne yang berkaca-kaca membuat Deni merasa yakin Syanne menjawab ya. Matanya kembali terpejam ketika merasakan perih. Mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi Deni mengusap bibirnya dan membiarkan tangan Syanne mencengkeram erat punggungnya ketika merasakan sesuatu memasukinya.
TAMAT

Cerita sebelumnya:
Bag 1, Bag 2, Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6, Bag 7

*Sumber gambar: Karl Liversidge, https://www.artstation.com

Biarkan Aku Mencintaimu (Bagian 8) TAMAT Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar