Pasien


Sastro benar-benar capek. Dalam sehari ini dia sudah mengunjungi pasien di tiga tempat. Bagi dokter kota, tiga pasien memang tidak banyak, tapi bagi dokter di tempat terpencil seperti dirinya jumlah itu sudah banyak. Tiap pasien tinggal di daerah terpencil. Satu pasien harus di datanginya dengan perahu boat. Seorang lagi harus ditemuinya setelah berjalan sejauh lima kilometer melintasi hutan. Dan yang terakhir ini, harus melewati jembatan penuh buaya. Kalau bukan karena desakan calon mertuanya untuk memiliki menantu dokter, Sastro sudah hengkang beberapa bulan yang lalu.

Baru saja akan meletakkan kepala di ranjang, terdengar bunyi ketukan. Sastro ingin mengumpat. Dokter juga manusia, sesekali harus istirahat, tetapi mengingat bahwa dalam radius dua puluh lima kilo hanya dialah yang menjadi dokter, Sastro bangkit lagi.

Seorang wanita renta terbungkuk di depannya. Rambutnya putih rata. Matanya memelas. Dengan menumpukan badan pada tongkat, perempuan itu mendongak. Ia memohon agar Sastro memeriksa anaknya. Puteranya tak mau makan, sehari-hari cuma tidur di ranjangnya. Sastro kembali ke dalam sambil membawa tas hitamnya, kemudian mengikuti wanita itu yang tertatih-tatih berjalan.

Rumah wanita menepi di kaki bukit. Sastro lega sudah sampai tujuan. Ia sempat berpikiran akan menginap di rumah wanita ini daripada harus berjalan kaki pada jam sebelas malam.

Dari punggung nenek itu, Sastro dapat melihat anak wanita itu sedang berbaring di sudut rumah. Mukanya ditutup dengan sarung yang dipakainya. Sekonyong-konyong perutnya mual. Bau makanan basi hampir membuatnya tersendak karena dia menahan diri menghirup udara. Di dekat pembaringan terdapat beberapa piring dengan nasi yang mulai berjamur berwarna oranye.

Sastro agak berkeluh menatap separuh cangkir kopi yang tampak menggiurkan tapi menjijikkan, mengingat pemandangan di sekeliling cangkir.

Ia meletakkan tas di lantai, mengambil stetoskopnya, dan cepat-cepat beringsut pada pembaringan pasien. Sastro berharap dia tidak muntah selama memeriksa pasien.

“Nak, Ibu sudah membawa Pak Dokter.”

Sastro menunggu anak ibu itu menyingkapkan sarung.

Ketika sampai beberapa detik anak itu diam, Sastro berpaling pada wanita itu. “Maaf, Bu. Saya periksa sekarang saja.” Sastro mengucapkan hal itu agar terlihat sopan.

Baru saja ia menyingkap sampai sebatas kepala, Sastro merasa ada keanehan pada anak itu. Keadaan gubuk yang gelap membuatnya sukar melihat wajahnya dengan jelas.

Tiba-tiba Sastro mundur tergesa-gesa. Bau makanan basi membuatnya tak mudah waspada dengan bau anak itu. Tetapi sebagai dokter, dia tak mungkin hanya puas melihat mukanya. Sastro kembali lagi ke dekat pembaringannya. Disingkapkan sarung itu sampai ke bawah cepat-cepat.

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pemandangan di depannya membuatnya shock. Anak ibu itu bukan lagi seorang anak. Tubuhnya hanya sebesar tulang-tulangnya. Bau busuk karena pesta pora belatung masih berlangsung. Secara reflek Sastro melihat muka anak itu. Matanya sekarang telah terbiasa dalam kegelapan, sehingga dengan jelas bagaimana parasnya.

Wajahnya sudah berupa tengkorak. Matanya tinggal sisa-sisa. Pada bagian mulut, Sastro melihat ceceran nasi, terlihat baru saja diletakkan disitu. Sastro lantas melihat wanita itu dan wanita itu balas memandangnya.

“Bagaimana Pak Dokter? Apakah anak saya bisa sembuh? Saya sudah menyuapinya beberapa hari ini, tetapi dia tidak mau makan.”

Sastro mundur dengan mulut ternganga. Punggungnya membentur kayu dinding rumah.

“Tolong, dokter. Sembuhkan anak saya.”

Pasien Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar