Jumat, 03 Juni 2016

Sisha


Semut-semut tidak terganggu ketika ia melintas. Udara tidak terbelah, seakan-akan ia hanya bayangan. Satu-dua pengunjung memperhatikannya, namun mereka segera kembali ke aktifitas mereka setelah melihatnya tidak bereaksi terhadap apapun. Wajahnya dingin. Matanya awas ke tempat fokus perhatiannya. Bola matanya terkadang berputar terlalu cepat sehingga matanya terlihat putih.

Bibirnya terungkit. Kakinya semakin cepat mengayun menuju ruangan di ujung koridor. Pria di ranjang memegangi dadanya. Pikirannya lebih kalut terhadap sakitnya daripada mendengarkan seseorang masuk dan berdiri di samping ranjang.

Sekonyong-konyong ia merenggangkan remasan pada dadanya. Matanya terpejam membayangkan bunga-bunga bermekaran. Kepalanya meneleng dan dalam hitungan detik menjauhi tepi ranjang.

“Siapa kamu?”

Tangannya terulur dengan cepat, membuat jantung pria itu berdetak lebih cepat. Teriakannya sudah hampir keluar dari mulutnya ketika tangan gadis itu tepat di atas dadan pria itu. Titik putih berkilauan muncul satu demi satu. Mereka berada dalam balutan kabut tipis. Ketika titik-titik itu terlalu banyak. Pria itu tidak lagi melihat mereka tetapi sebuah sinar menyilaukan.

Dadanya terasa sejuk. Sesuatu dalam jumlah banyak memasuki pori-porinya. Perasaan nyaman membuatnya membuang jauh-jauh kalau gadis ini menyakitinya. Kesakitan tak akan membuatnya—aneh. Sakit dadanya hilang.

Ia melongok kepada gadis itu. Kali ini parasnya berubah. Kulitnya tak sepucat tadi.

“Kamu menyembuhkan aku? Apa kamu malaikat?”

Kepalanya menggeleng. “Kamu beruntung bisa melihatku. Tidak kepada semua manusia bangsaku memperlihatkan diri.”

“Hantu?”

Senyum gadis itu lebih hebat. “Apa aku melayang dari tanah?”

Pria itu menegakkan badan, takut-takut melihat ke bawah. Kaki gadis itu menyentuh lantai.

“Beberapa orang menyebut kami hantu. Tetapi itu salah. Kami mempunyai tubuh.” Gadis itu mengulurkan tangan. “Sentuh saja jika kamu tak yakin.”

Pria itu menyentuhnya. Terasa hangat di telapaknya.

“Anak-anak menyebut kami peri. Aku menyukai itu. Gambaran itu lebih tepat. Bangsaku lebih senang digambarkan sebagai makhluk diantara hantu dan manusia.”

Pria itu tertawa. “Jangan membodohiku. Peri itu cuma khayalan pengarang cerita.”

Gadis itu tidak nampak tersinggung. Senyumnya semakin lebar. “Pengarang cerita peri pertama pastilah pernah melihat kami sehingga dapat lebih tepat menggambarkan bangsaku.”

Pria itu tak ingin membantah meskipun masih belum percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimanapun juga gadis ini sudah membantunya. Tidak adakah sedikit terima kasih dengan membiarkannya berbicara apa adanya.

“Kenapa kamu membantuku?”

“Pertanyaan yang sama juga aku tanyakan ke kamu. Kenapa kamu menolong kupu-kupu kecil yang terluka sayapnya waktu kamu berumur dua belas tahun?”

“Kupu-kupu?” pria itu terkejut.

Gadis itu mengulurkan tangannya. Jari telunjuknya menempel pada dahi pria itu. Kilasan-kilasan cahaya di benaknya membentuk layar. Ia mulai melihat seorang anak kecil berpakaian putih biru sedang berjalan di taman sekolah seusai bel pulang berdetang. Mata mungilnya melihat kupu-kupu tergeletak di bangku taman. Sayapnya tampak sobek. Beberapa semut merah sedang menuju ke arahnya. Anak itu tahu apa yang terjadi. Semut-semut itu pasti mau memakannya. Sebelum semut paling dekat mencapainya, telunjuk dan jempolnya menjepit sayap kupu-kupu itu dan membawanya pergi.

Pria itu menatapnya. “Apakah itu kamu?”

Gadis itu mengangguk. “Namaku Sisha.”

“Aku Hansa.” Jawabnya cepat.

“Sekali lagi terima kasih, Han. Kamu sudah menolongku waktu itu. Tak banyak yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu.”

“Sebaliknya. Kamu sudah melakukan banyak hal.”

Sisha berbalik. Semakin mendekati pintu, semakin keluar sayap dari punggungnya. Cahaya samar-samar nampak dikelilingi bola-bola putih menuju sebuah pintu cahaya di depan pintu kamarnya.

“Sisha?”

“Ya?” gadis itu berbalik.

“Apakah kita bisa bertemu lagi?”

Sisha tak menjawab. Ia berdiri tepat di depan pintu cahaya. Senyumnya masih ada dalam bayangan mata Hansa meskipun cahayanya menghilang pelan-pelan seiring dengan pudarnya sosok Sisha.

***

Hansa sedang menyantap makanannya ketika dua orang keponakannya masuk ke kamarnya. Kesunyian pagi segera pecah oleh tawa mereka.

“Om Han, Mama belikan Chika buku dongeng baru.”

Hansa belum sempat menjawab ketika kakaknya bertanya dari ambang pintu. “Gimana keadaanmu, Han? Kata suster tiba-tiba kamu jadi baikan.”

“Seperti yang Mbak lihat. Aku bisa makan sendiri.”

Hansa melihat sampul hardcover buku dongeng keponakannya. Sebuah sosok gadis kecil bertubuh ramping sedang berdiri diatas sebuah bunga. Lukisan sayap gadis itu seperti kupu-kupu, berwarna biru dengan noktah-noktah hitam. Hansa mendekatkan mulutnya pada telinga Sisha.

“Mau Om beritahu suatu rahasia?”

Mata Chika mengerjap-ngerjap senang. Ia mengangguk-angguk.

“Peri itu ada. Om barusan ketemu dia tadi malam. Namanya Sisha.”

Gadis kelas satu SD itu terpekik.

Sisha Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar