Suatu Malam di Probolinggo



Tahun 1988 adalah tahun pertama aku menginjakkan kaki di Kraksaan, Probolinggo. Ayahku baru saja dipindahtugaskan di kantor cabang pada kota ini. Aku dan kakakku tidak ikut pindah. Kami masih tinggal di Surabaya. Ibuku sering bolak-balik antara menjaga kami dan menemani ayah. Tetapi pada hari-hari libur aku sering ke Kraksaan.

Kantor cabang tempat ayahku adalah bekas rumah belanda. Terdiri dari dua lantai. Kantor terletak di bawah, sedangkan rumah dinas ayahku ada di lantai dua. Aku sungguh senang sewaktu melihat-lihat keadaan rumah itu. Baru kali ini aku menginap di rumah peninggalan Belanda. Aku tidur di kamar belakang, sedangkan orangtuaku di bagian depan.

Malam harinya aku tidak dapat tidur. Hawa benar-benar dingin. Tiba-tiba aku ingat, saat datang kemari, aku membawa game-ku dalam disket. Saat itu aku memang sedang getol-getolnya memainkan game simulasi pesawat. Karena tidak bisa tidur, aku memutuskan untuk main game sebentar di lantai satu.

Aku menyalakan lampu dan segera duduk di depan komputer. Dan entah sampai berapa lama, lamat-lamat aku mendengar suara seperti mendesis. Awalnya aku tidak menyadari karena suara game yang kumainkan ada yang mirip dengan suara ini, yaitu saat pesawat akan tinggal landas. Aku baru merasa aneh saat pesawat game-ku sudah di udara, seharusnya sudah tidak bersuara seperti itu namun aku masih sesekali mendengarnya. Mataku berkeliling di sekitar ruangan. Memastikan kalau suara yang aku dengar tidak berasal dari sekelilingku.

Aku mematikan suara speaker. Sekarang aku yakin bahwa suara itu bukan berasal dari game-ku. Dan sekali lagi suara itu terdengar. Di bagian belakang ruangan terdapat dua jendela dengan tinggi yang tidak umum. Dari sana aku mendengar suara seperti diketuk-ketuk. Karena penasaran aku mendatanginya. Jendela kubuka. Tak ada apa-apa. Aku melihat beberapa meter dari jendela ada sebuah rumah kecil. Mungkin gudang, pikirku. Aku akan menutup jendela lagi. Belum sempat meraih ujung jendela, mataku menangkap sosok di dalam kegelapan dekat pintu gudang. Bukannya takut aku malah menajamkan mata. Yang ada dalam pikiranku saat itu mungkin saja orang baik-baik atau pencuri.

“Hallo, Anda siapa?”

Dia tak menjawab.

Sekonyong-konyong suasana gelap. Listrik mati. Tetapi anehnya aku masih dapat melihat orang itu. Waktu itu aku berpikir, mungkin sinar bulan penyebabnya. Tetapi jauh hari sesudah peristiwa itu, aku menyadari, seharusnya aku tidak dapat melihat karena orang itu berdiri di bawah atap yang mencuat dari belakang, sehingga sinar bulan tak akan dapat menyinarinya. Orang itu memang gelap seperti bayangan, tetapi lebih berpendar dari gelap di sekitarnya. Mirip kabut putih dan tak transparan.

Tangannya melambai kearahku. Aku lantas berpikir, mungkin itu Papa. Aku keluar lewat pintu di samping jendela. Ketika aku sampai diluar, aku melihat dia memasuki gudang dan membiarkan pintu terbuka. Aku tahu maksudku, dia pasti menyuruhku untuk mengikutinya. Aku berjalan ke arah pintu gudang.

“Papa?”

“Yaaaa,” jawabnya agak serak. Seperti orang yang kesulitan berbicara.

Belum sempat aku sampai di pintu, sebuah suara berteriak agak keras di belakangku. “Arman? Kenapa kamu kesitu?”

Suara Papa. Aku terkejut dan menoleh ke belakang. Kulihat ayahnya mengarahkan senter ke sekitarku. Mungkin dia mau memeriksa sekering atau apa.

“Lho?” Aku merasa bingung. Kepalaku memutar ke arah gudang. Orang itu tidak ada. Aku ingin bertanya pada ayahku, tapi urung.

Hari telah sampai pada jam sembilan esok hari ketika aku berada di depan pintu gudang. Dahiku berkerut. Pintu digembok dengan gembok dan rantai besar. Berkarat. Tidak ada tanda-tanda dibuka paksa. Lantas bagaimana pintu ini terbuka tadi malam?

Suatu Malam di Probolinggo Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar