Biarkan Aku Mencintaimu (Bagian 2)


“Ketika aku kecil. Aku bangga pada Papa. Aku suka setiap kali diantar Papa ke sekolah. Cuma Papa yang punya sepeda motor cowok. Selalu mengilap. Tidak pernah kotor. Teman laki-laki-ku selalu bilang ‘hebat ya papa kamu, motornya bagus’. Waktu itu ekonomi keluargaku tidak sebaik sekarang. Tapi kami bahagia.

“Saat ekonomi keluarga membaik. Papa mulai berubah. Mulai jarang pulang. Aku dan Mama sering menunggu Papa pulang malam-malam. Kami baru tahu apa Papa sering mabuk-mabukan ketika sering muntah saat pulang ke rumah. Lama-lama aku jadi takut sama Papa ketika Mama sering ditampar. Aku berlari ke kolong tempat tidur. Aku tidak mengerti, kenapa Papa tiba-tiba menjadi jahat.

“Papa tidak perduli, harta kami lama-lama habis dipakai Papa berjudi. Saat itu aku lantas berusaha mencari uang buat Mama. Kebetulan aku pernah diberitahu temanku kalau ada audisi untuk band girl. Aku keterima. Seneng banget waktu pertama kali memberikan uang honorku ke Mama.

”Suatu kali, show-ku di luar pulau. Kami balik lagi naik pesawat paling malam. Papa marah-marah. Dia tetap tidak terima waktu Mama bilang aku sudah ijin sama Mama.”

Deni melirik Syanne yang sedang memejamkan matanya. Rahangnya mengeras. Nafasnya memburu, seperti mencoba mengendalikan perasaannya.

“Malam itu Papa—“

Syanne memeluk kedua lututnya. Kepalanya tertunduk. Deni meletakkan tangannya pada punggung Syanne yang terguncang-guncang. Deni sama sekali tidak menemukan bayangan seorang gadis yang menyanyi dengan gembira di panggung dengan dandanan ala remaja. Senyum ke arah penggemarnya berubah menjadi aliran hangat dari muara di matanya. Kulitnya yang bersih putih menjadi kemerah-merahan.

Waktu berjalan begitu lama, sampai Deni merasakan Syanne sudah lebih tenang. Syanne menyandarkan punggungnya sejajar dengan Deni. Kedua telapak tangannya mengusap-usap mata, kemudian kembali meletakkan tangannya pada lutut.

“Aku mungkin bukan lulusan sekolah kita.”

“Kenapa?”

“Aku tidak ingin semua teman-teman kita tahu. Aku akan keluar. Setelah melahirkan, baru aku ikut ujian paket C.”

“Aku salut sama kamu.”

“Kenapa?” Suara Syanne berbisik.

“Kebanyakan cewek di posisimu pasti ingin menggugurkan.”

“Semula begitu. Tetapi aku ingin suatu ketika papa-ku akan berlutut meminta maaf anakku. Itu jika dia mau, atau dia akan membawa kesalahannya sampai liang kubur.”

Deni merasakan kengerian, ia mempertimbangkan kata-kata terakhir Syanne. Ancaman atau rasa belas kasihan?

“Bagaimana dengan pacarmu?”

“Pacar? Aku tidak punya.”

“Masa, sih?”

“Aku berharap kamu yang menembakku. Tapi kamu terlalu pengecut.” Syanne tertawa. Deni merasakan kegetiran lewat nada suaranya.

“Kamu idola di sekolah kita. Aku pasti akan korban perasaan kalau punya pacar seperti kamu.”

“Kenapa?”

“Kamu terlalu cantik. Cewek cantik banyak yang suka.”

“Cantik mana sama Niken, pacarmu?”

Tiba-tiba bayangan Niken berkelebat dalam benaknya. Niken dan Syanne adalah adik kelasnya. Mereka berdua sangat bertolak belakang. Syanne dituntut untuk tampil sangat-cewek. Girl band setahunya memang begitu. Niken memang berambut poni dengan potongan pendek. Penampilannya terkesan mungil tetapi lincah. Sedangkan Syanne kalem. Matanya penuh misteri. Melihatnya, membuat cowok berpikiran kalau Syanne pasti sedang menilai pria di hadapannya.

“Pertanyaan jebakan.”

“Udah jawab aja. Niken enggak bakalan tahu.”

“Kalian berdua sama-sama cantik.”

“Diplomatis.”

“Udah, ah. Kenapa aku diadili?”

‘Yeee..marah.” Syanne tertawa.

Deni menunggu sampai tawa Syanne reda. Dengan lembut kepalan tangannya meninju lengan Syanne. “Aku suka lihat kamu tertawa.”

Syanne terdiam. “Thanks, kamu udah bikin aku hepi.”

“That’s ok. Oh, ya. Apa nggak sebaiknya kamu memberitahu Mama-mu kalau kamu disini?”

“Sudah.”

“Mama kamu enggak kuatir kamu disini sama aku.”

“Tadinya begitu. Hampir satu jam aku jelasin siapa kamu, terus Mama bilang ingin ketemu sama kamu.”

Deni mengurut-ngurut dada. “Kenapa aku jadi grogi, kayak mau ketemu sama calon mertua.”

“Maybe someday.” Syanne mengedipkan matanya.

Ini mengherankan. Tak ada angin tak ada badai. Celetukan Syanne membuat hatinya kacau balau. Syanne pastilah tak bermaksud menggodanya. Mungkin dia hanya sekedar menutupi kegundahan hatinya sendiri dengan bercanda. Tak mungkin Syanne begitu cepat berubah dari rasa sedih terhadap keadaan dirinya sampai pada taraf bisa bercanda seperti tadi. Sesekali Deni melihat pada mata Syanne. Sinar matanya tak pernah beranjak dari rasa marah dan sedih.

“Besok kita ke sekolah bareng. Tapi aku turunin kamu lima puluh meteran dari gerbang sekolah. Tidak apa-apa, kan?”

“Aku tahu maksudmu.”

“Bukan cuma buat Niken. Tapi aku ingin cara kita berhubungan di sekolah masih seperti dulu.

Syanne mengangguk. “Aku setuju. Don’t worry. Memang tidak mengenakkan berhubungan dengan cewek yang hamil.”

“Please, jangan berpikiran seperti itu. Bukan itu maksudku. Aku tidak ingin menimbulkan gosip yang justru akan memperparah namamu sendiri.”

“Met malem.” Deni membalikkan badan. Baru saja kakinya di tangga pertama, Syanne memanggilnya. Ia membalikkan badan lagi.

“Jika mereka tahu aku hamil, dan tahu kalau aku tinggal disini, mereka akan menuduhmu yang melakukannya.”

“Maksudmu apakah aku takut atau tidak?“ Deni berjalan mendekati Syanne. “Ayahku meninggal sejak aku kelas sembilan. Sejak itu aku yang mencari uang untuk mamaku dengan membuka bengkel di depan itu. Kelas sepuluh, mamaku menyusul ayahku. Dan lihat aku sekarang. Berdiri tegak. Kalau aku penakut, aku sudah jatuh dari kemarin-kemarin.”

“Yang aku kuatirkan nama baikmu, bukan keberanianmu.”

“Aku tipe orang yang tidak perduli pendapat orang. Selama aku anggap baik, aku akan maju terus. Apa yang terjadi padamu bukan kesalahanmu. Jika harus dicari-cari siapa yang salah, aku akan menjawab dengan pasti. Ayahmu. Dan ngomong-ngomong masalah ayah. Kita punya kesamaan. Kita punya ayah yang brengsek. Sayangnya laki-laki yang kita bicarakan ini berkedudukan sebagai ayah di keluarga kita. Kita tak bisa melampiaskan dendam atas nama kesalahan mereka. Kecuali kita mau dikutuk jadi jambu monyet.”

Syanne tertawa getir. Perkataan ‘dikutuk jadi jambu monyet’ akan menjadi candaan yang menyenangkan seandainya dirinya dan Deni tidak dalam keadaan seperti ini.

Deni mengatupkan rahang. “Itulah alasanku sebenarnya tidak keberatan menerimamu disini. Persamaan kita.”

“Maaf.Aku mengingatkan kamu sama ayahmu.”

“Tidak apa-apa. Lagipula itu sudah cerita usang buatku.”

Deni membalikkan badannya lagi. Setelah Syanne mendengar suara pintu berderit, tak didengarnya suara sampai beberapa lama. Syanne kembali ke tempat tidurnya. Kepalanya menengadah ke lantai tiga.

Niken beruntung punya kamu.

BERSAMBUNG ke Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6, Bag 7, Bag 8

Cerita sebelumnya:
Bagian 1

Biarkan Aku Mencintaimu (Bagian 2) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar